PINTO ANUGRAH, menulis, berteater, dan bergerak di bidang kebudayaan.

Pada dunia sastra, menulis cerpen, novel, puisi, naskah lakon, esai sastra-budaya-teater, dll. Dimuat di beberapa media, seperti
Padang Ekspress, Singgalang, Suara Perjuangan, Koran Tempo, Kompas, Riau Pos, Bali Pos, Jurnas Bogor, Pikiran Rakyat, Jambi Independent, Jurnal Selarong, Tandabaca, Titikoma, Majalah Misi, Jurnal Kreativa, dll. (lupa lengkapnya, kurang pendokumentasian) Kadang sering juga dicuri tanpa izin

Sering juga memenangi lomba penulisan baik cerpen, naskah lakon, atau puisi.

Pada teater bukanlah seorang aktor, lebih banyak terlibat di belakang panggung, seperti; sutradara, pimpinan produksi, penulis naskah, pembedah naskah, atau hanya tukang catet adegan. Sering juga hanya mengkritik pementasan kelompok lain.

Bergerak di beberapa komunitas–lebih banyak terlibat dalam bidang manajemennya, seperti:
– Rumah Kreatif Kandangpadati, bergerak di bidang sastra, kebudayaan dan kesenian (sebagai kepala rumah tangga)
– Teater Langkah, teater kampus fakultas sastra unand (mantan ketua, keanggotaan seumur hidup)
– Komunitas Daun, bergerak di bidang sastra dan kebudayaan (pendiri)
– Ranahteater, teater independen (pendiri, general manager)

Beberapa karya yang pernah dibukukan dalam antologi komunal:

– Pipa Air Mata, kumpulan cerpen pilihan Riau Pos (Pekanbaru, 2008 )
– Wajah Deportan, kumpulan puisi antar propinsi (Kalimantan, 2008 )
– Jemari Laurin, kumpulan cerpen terbaik Balai Bahasa Sumbar (Padang, 2008 )
– Kampung dalam Diri, kumpulan puisi Temu Penyair 5 Kota Payakumbuh (Payakumbuh, 2008 )
– iBumi, kumpulan puisi (Jakarta, 2008 )
– Medansastra, kumpulan cerpen Temu Sastrawan se-Sumatera (Medan, 2007)
– Tembang Bukit Kapur, kumpulan cerpen pilihan Escaeva (Jakarta, 2007)
– Herbarium, kumpulan puisi Temu Penyair 4 Kota Yogyakarta (Yogyakarta, 2007)
– Kaca, kumpulan naskah lakon Teater Langkah (Padang, 2006)
– Dua Episode Pacar Merah, kumpulan puisi (Padang, 2005)

Masih ingin terus berkaraya. Berkarya bukan untuk mencari duit dan ketenaran (seperti kebanyakan sastrawan2 dan seniman2 saat ini) walau terkadang sering juga nagih honor yang telat datangnya, hehehe, tapi berkarya hanya untuk kepuasan batin dari kegelisahan. Makanya saya percaya, jadi orang kaya dulu baru jadi seniman, hehehe.

Iklan