Baca! Bacalah Atas Nama

(Catatan Pementasan Tambologi 2, STSI Padangpanjang)

Esai Pinto Anugrah

Pementasan dibuka dengan narasi “baca” yang lumayan panjang dari seorang perempuan, yang menjelaskan inti dari cerita pementasan. Seorang perempuan, dengan narasi tersebut, sudah menyimbolkan Minangkabau dengan segala pergelutannya—ya, masih dengan persoalan matrilineal Minangkabau, yang terkandung di dalam tambo atau undang-undang Minangkabau.

Faiz M)

Menunggu Dewasa (photo: Faiz M)

Baca! Kita pun dibawa membaca Minangkabau malam itu dengan pementasan yang berjudul Tambologi 2, karya dan sutradara Wendi HS, pada tanggal 4 November 2008 di Teater Kecil Taman Budaya Sumatra Barat, Padang. Struktur cerita yang rapi, walau komunikasi visualnya banyak dilakukan dengan tubuh—dengan sedikit bahasa mulut—tapi kita dapat mengikuti alur ceritanya dari awal sampai akhir.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

AKAN SEGERA TERBIT!

kumpulan artikel seni pertunjukan, “SUDUT PENTAS” yang ditulis oleh Pinto Anugrah dan S Metron M.

zulham)

sudut pentas (ilustrasi: zulham)

Buku ini berisi tentang esai-esai sekitar dunia seni pertunjukan, kritik seni pertunjukan (teater, tari, rupa, dll), juga tentang pandangan penulis terhadap dunia seni pertunjukan. Terdapat sekitar 30 esai dan artikel yang terangkum di dalamnya, yang telah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional.

Mungkin hanya sekilas saat ini yang dapat saya informasikan. Dan tunggu saja tanggal terbitnya!

Salam

Pinto Anugrah

Berhubung novel ini belum diterbitkan, maka hanya sedikit penggalan dari novel ini yang ditampilkan. Jika ada yang berminat untuk menerbitkannya silahkan hubungi saya ke email: king_of_chotic@yahoo.com

Anggang

Faiz M)

Anggang dari Laut (photo: Faiz M)

Maka berapalah lamanya masa itu, saat masih bernama Pulau Perca, saat laut belumlah benar surut, maka bermufakatlah sekalian isi negeri di Galudi nan Baselo. Maka lalulah Anggang dari laut merapat di gunung Marapi dengan sendirinya hendak mencari makan. Baca entri selengkapnya »

Rencananya Ranahteater mulai oktober ini akan produksi baru dengan naskah KAMAR, naskah disusun kembali oleh Pinto Anugrah dan disutradarai oleh S Metron M, pimpronya Reno Wulan Sari, pemain Esha Tegar Putra, Eka Setiawan, Zulham Muluk, dan Lisa Amelia, serta penata musik Chairan Hafzan.

sedikit penggalan naskah:

Kamar

Faiz M)

Menyingkap Kamar (photo: Faiz M)

HENING SESAAT. KEMUDIAN LAMBAT-LAUN TERDENGAR BUNYI YANG MAKIN LAMA SEMAKIN KERAS.

Baca entri selengkapnya »

Kopi Daun

Faiz M)

Di Balik Daun (photo: Faiz M)

Disangainya daun-daun itu di atas api setelah seharian dijemur. Ia pun ikut berdiang. Tangannya masih gemetar menahan dingin sambil memegang tudung saji. Setelah cukup rasanya, daun-daun itu diremas kemudian ditaruhnya di dalam periuk. Ia tuangkan air secukupnya, lalu dinyalakannya kompor minyak tanah. Ia tunggu sejenak sampai air itu menggelegak. Setelah menggelegak, dituangkannya ke dalam gelas, lalu dimasukkannya gula sesendok teh. Ternyata petang cukup dingin, cepat ia hirup air itu, panas-panas. Tampak ia rasakan kelegaan, entah karena tubuhnya telah merasa hangat atau karena dapat melepas penat setelah seharian bekerja, tak tahulah. Ia kemudian menggulung rokok nipah dan menyandarkan punggungnya ke dinding balai-balai.

Baca entri selengkapnya »

EMMA HAVEN

Fiona (photo; Faiz M)

Laya, kau kah? (photo; Faiz M)

Seperti siput, kapal itu lepas dari pelabuhan. Galias, kapal dagang Belanda, meninggalkan tanah rempah. Berlayar dengan wajah lesu, seolah jangkar belum diangkat. Mengangkut para koloni, setelah sekutu kalah di Pasifik. Wajah-wajah kalah tersirat dari raut muka mereka, namun dari mata mereka berkata, janji akan merebut gugusan pulau emas itu kembali. Pluit kapal berbunyi tiga kali. Lampu-lampu menara suar menuntun Galias meninggalkan lingkung teluk.

Seorang lelaki berdiri di ujung geladak. Matanya tak lepas memandang ke arah teluk. Ia tak berkedip sedetikpun. Lelaki jangkung yang hidungnya sejajar dengan topi kebun yang ia pakai. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan ledakan meriam dari mulutnya.

Ada yang melambai di teluk sana. Ia melambai dengan sapu tangan putih di ujung jemarinya. Ada yang melambai di Emma Haven. Baca entri selengkapnya »

Faiz M)

Menanti Benih (photo: Faiz M)

Musim Tanam

Di mana kautanam dirimu, biar kupetik saat musim panen
di antara benih-benih. Ranggas juga di hatiku

seumpama kita yang jatuh pada musim tanam,
desir angin menyimak di pematang. Adakah kau
yang duduk di dangau sana.

Di kelok-kelok pematang. Kaurambah rerumput
semak umpatmu. Pada kubangan. Keciprak lenyah lenguhmu,
kau mengumpat ujar. Padahal kaudatangi juga
dangauku,

adakah kau bertanam di sana.

Kandangpadati, 0708 – 09 Baca entri selengkapnya »

Cerpen Pinto Anugrah

-rambut ibu panjang seperti mengukur kesetiaan-

Ia berjalan, sendiri. Menyusuri keheningan Kota Lalu yang membangun kenangan. Walau kenangan itu pernah ia lepas. Kini dicoba mengingat kembali. Sebuah trotoar, di mana kanaknya pernah berlari dengan lincah.

“Elfira, masuk ke rumah! Tidak baik anak gadis masih di luar senja begini!” Ibunya berteriak di depan pintu, sambil memegang sapu lidi yang biasa digunakan untuk mengusir kucing.
Elfira makin berlari. Baca entri selengkapnya »

Layar Angin

Kapal Lain

hit counter

Riosadja Weblog!

Photobucket

Kapal Lain yang Datang

  • Tidak ada

Almanak

September 2019
S S R K J S M
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kapal merapat

website statistics image
Powered by web analytics software program.
Iklan