Festival Novel Menggugah Pro-U Media

Sejak 2003 Pro-U Media memunculkan karya-karya yang berawal dari kehidupan sehari-hari lewat penyajian ringan dan mudah dipahami. Banyak penulis yang bersama Pro-U Media; memberikan inspirasi, semangat, dan gugahan hidup kepada para pembaca dan masyarakat luas. Beberapa kali kami adakan event tingkat nasional, seperti pada tahun 2006 kami adakan lomba kepenulisan tingkat nasional yang diikuti 1500 lebih karya. Pertengahan tahun 2008 kami adakan Festival Film Indie tingkat nasional yang memperebutkan Trophy Menpora, alhamdulillah sukses. Kini, giliran Anda untuk untuk bergabung bersama kami untuk bersama-sama menggugah dan mencerahkan masyarakat agar hidup lebih baik dan berbarokah melalui karya-karya sastra. Baca entri selengkapnya »

pacu jawi (foto: Muhammad Fadli)

pacu jawi (foto: Muhammad Fadli)

Yang dibutuhkan bukan hanya bahan yang bagus, tetapi juga kecakapan mengolahnya. Tuntutan ini berlaku bukan hanya dalam penulisan sastra, tetapi juga dalam telaah sastra, bahkan dalam kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Jika bahan sastra Indonesia bisa digali dari pelbagai penjuru nusantara, bahkan belahan bumi lain, begitu juga seharusnya dengan kecakapan menuliskannya. Sejenis keahlian yang kami percaya akan membuat sastra Indonesia berkembang dan berdiri sejajar dengan sastra-sastra dari belahan bumi lainnya. Salah satu kenyataan yang harus kita terima adalah telaah sastra tidak tumbuh subur di negeri agraris ini. Bukan hanya karena hampir tidak ada media yang secara khusus memuat telaah sastra, tetapi juga kurangnya rangsangan agar kelak ia bisa tumbuh subur, cemerlang, dan inspiratif. Untuk merangsang kelahiran telaah sastra yang diharapkan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan kembali sayembara telaah sastra. Mengambil tema “Kepengrajinan (craftmanship) dalam Sastra Indonesia Mutakhir” sayembara telaah sastra kali ini mengajukan sejumlah pertanyaan pemancing: Bagaimana pencapaian sastra kita dalam 10 tahun terakhir ini? Bagaimana kecakapan mengolah gagasan di kalangan penulis sastra mutakhir kita? Apakah kecakapan ini hadir secara konsisten atau hanya kebetulan? Bagaimana kecakapan ini membedakan mereka dari pendahulu mereka? Bagaimana percobaan bentuk-bentuk baru berkelindan dengan muatan lokal yang ada? Bagaimana pula para penulis sastra terkini memandang para pendahulu mereka dari khasanah nusantara dan dunia? Terobosan apa saja yang mereka lakukan? Dan seterusnya. Baca entri selengkapnya »

Cerpen Pinto Anugrah

Calon Presiden Idaman

Calon Presiden Idaman (Foto: Faiz M)

Hujan telah teduh dan ia menyibak sisa embun di kaca jendela dengan telapak tangannya. Dingin memagut, lenguh napasnya membias di kaca, membuat kaca itu kabus kembali. Ia sapu dengan telapak tangan. Terasa dingin merasuk, menusuk-nusuk, masuk ke tubuhnya. Dan ia segera menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.

“Belum juga datang?”

Dari luar, tampak wajah tua yang pucat menahan dingin memandang dari balik kaca. Matanya memandang jauh, lurus, seolah ia dapat menembus setiap benda yang menghalangi pandangannya. Sedang kabut mulai turun menyelimuti. Seperti menghamparkan sebuah layar putih di hadapannya, yang kemudian mata itu seperti berubah menjadi sebuah proyektor yang menembakkan potongan-potongan kehidupannya.

Baca entri selengkapnya »

RADAR BALI LITERARY AWARD 2009
Komunitas Sahaja – Radar Bali (Jawa Pos Group)


Tata Tertib dan Kriteria
RADAR BALI LITERARY AWARD 2009
Lomba Cipta Puisi
Baca entri selengkapnya »

Ini merupakan tata panggung garapan terbaru Ranah Teater dengan judul KAMAR. Tata panggung ini dirancang oleh Zulham, salah seorang desain grafis Ranah Teater sekaligus dalam garapan ini menjadi Aktor.

Zulham)

Seting Pentas KAMAR (Desain: Zulham)

Faiz M)

Sembahyang Sawah (Photo: Faiz M)

Tuanku Kaji

dingin usiamu, jatuhlah kepada yang menghamba. Tuanku,

datang seiring angin. Saat petang usai, orang letih

menutup jendela, dalam debar sendiri

bukan kau yang menyilau, hanya bunyi derit ranting,

bergegas angin petang. Dan tawa kecil datang berbondong

menyapu jalan kampung—kerikil-kerikil itu bernyanyi.

Bayang mereka lewat di pinggir kolam. Tersenyumlah di bibirmu

yang paling ujung.

Baca entri selengkapnya »

Salvador Dali

Lukisan: Salvador Dali

Sajak Parole (01)

Jendela yang kaututup pada pagi, tak ada timur

yang kausimpan di kamarmu.

Dan siapa yang menghuni kabut.

Kandangpadati, 080319

Baca entri selengkapnya »

Kenapa saya tampilkan sajak-sajak ini di blog saya, entahlah, mungkin karena saya sedang rindu dengan seorang sahabat/guru/yang saya tuakan dalam perjalanan kreatif saya. Ya, Hariyanto Prasetyo, sosok yang pertama kali mengenalkan saya dengan puisi dan yang mengajarkan saya bagaimana cara menulis puisi, yang membuat saya menjadi seorang “preman kutu buku”. Sosok yang ulet, nyentrik, pendiam, lelet, dan bahkan memiliki dunia sendiri yang tak bisa disentuh orang lain.

Lama tak melihat batang hidungnya, bahkan saya kehilangan jejak di mana dia berada sekarang dan apa yang dilakukannya. Terakhir bertemu dengannya bukan di Padang (tempat domisili kami) bahkan jauh, di Yogyakarta sana, saat mengikuti “Temu Penyair Muda Empat Kota” tahun 2007. Sungguh menggelikan bukan, terakhir bertemu dengannya bukanlah di Kedai Owen—tempat kami biasa berbagi cerita tentang apa saja—Padang, malah di negeri orang. Waktu itu, di Yogyakarta, saat kami pisah, saya pulang ke Padang dan dia katanya mau singgah ke tanah leluhurnya di salah satu desa di Jawa Tengah. Ah, entahlah, mungkin suatu waktu saya akan berjumpa juga dengannya.

Faiz M)

Kembali Kalah (Photo: Faiz M)

Ini, sedikit dari sajak-sajaknya yang tertinggal di file komputer saya.

Seikat Rubaiat

kau, aku, sepah pahit sumpah kita

padahal aku cintai kau sesama kau

cintai aku. Lantas, adakah kita

cintai aku sesama kau cintai aku?

apa yang mengikat kau aku mengingat kita?

Cinta? Hingga saling berlupa dilukai cintanya

Baca entri selengkapnya »

Mata yang Kemarau

Cerpen Pinto Anugrah

Mata yang Kemarau

Mata yang Kemarau (Photo: Faiz M)

Runcing kaki hujan jatuh tepat menimpa ubun-ubun kepalanya. Cepat-cepat ia berlari, berlindung ke bawah atap rumah yang menjorok keluar. Ditunggunya hujan reda, namun sepertinya akan lama. Di langit awan hitam masih tebal, belum cukup dengan jatuhnya hujan yang baru sesaat. Matanya menatap hujan yang jatuh dari atap menimpa tanah, hingga kaki-kaki hujan itu membentuk semacam garis lurus seakan memberi batas. Batas hujan. Masih cukup lama ia akan berdiri di sana, merapat ke dinding rumah.

Baca entri selengkapnya »

Faiz M)

Melet (Photo: Faiz M)

Wangi Cengkeh

… yang datang, di antara angin. Menyusup dari balik dinding. Datanglah diam-diam, sebelum hujan turun. Ribut angin. Suara kita bercampur dengan derit ranting patah. Diam-diam kita pun saling bicara dengan kata yang paling jantung (oh, kukirim wangi cengkeh di antara manis tidurmu). “Pulanglah!” Sebentar lagi hujan dan aku tak ingin melihatmu menangis di bawah gerimis.

Selalu kauhempaskan masalalu di dadaku, tapi tak kunjung pecah berkeping. Sedang dada kiriku terus berdegup. Aku takut kemarau menghalau nyaring bunyi daunmu.

Seperti derai daun cengkeh pagi itu dan kita sama-sama masih berpagut gigil. Aku pun jadi candu di dalam rasa yang begitu manis. Namun, lagi-lagi, kautawari silau kaca di antara hiruk-pikuk pasar. Memaksa untuk tawar-menawar harga. Aku hanya ingin di sini, termangu, menghirup wangi cengkeh, hingga sampai pagi berikutnya.

kandangpadati, 0810

Layar Angin

Kapal Lain

hit counter

Riosadja Weblog!

Photobucket

Kapal Lain yang Datang

  • Tak ada

Almanak

Desember 2016
S S R K J S M
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

kapal merapat

website statistics image
Powered by web analytics software program.