You are currently browsing the category archive for the 'Puisi Lanun' category.

Sembahyang Sawah (Photo: Faiz M)
Tuanku Kaji
dingin usiamu, jatuhlah kepada yang menghamba. Tuanku,
datang seiring angin. Saat petang usai, orang letih
menutup jendela, dalam debar sendiri
bukan kau yang menyilau, hanya bunyi derit ranting,
bergegas angin petang. Dan tawa kecil datang berbondong
menyapu jalan kampung—kerikil-kerikil itu bernyanyi.
Bayang mereka lewat di pinggir kolam. Tersenyumlah di bibirmu
yang paling ujung.
Sajak Parole (01)
Jendela yang kaututup pada pagi, tak ada timur
yang kausimpan di kamarmu.
Dan siapa yang menghuni kabut.
Kandangpadati, 080319
Wangi Cengkeh
… yang datang, di antara angin. Menyusup dari balik dinding. Datanglah diam-diam, sebelum hujan turun. Ribut angin. Suara kita bercampur dengan derit ranting patah. Diam-diam kita pun saling bicara dengan kata yang paling jantung (oh, kukirim wangi cengkeh di antara manis tidurmu). “Pulanglah!” Sebentar lagi hujan dan aku tak ingin melihatmu menangis di bawah gerimis.
Selalu kauhempaskan masalalu di dadaku, tapi tak kunjung pecah berkeping. Sedang dada kiriku terus berdegup. Aku takut kemarau menghalau nyaring bunyi daunmu.
Seperti derai daun cengkeh pagi itu dan kita sama-sama masih berpagut gigil. Aku pun jadi candu di dalam rasa yang begitu manis. Namun, lagi-lagi, kautawari silau kaca di antara hiruk-pikuk pasar. Memaksa untuk tawar-menawar harga. Aku hanya ingin di sini, termangu, menghirup wangi cengkeh, hingga sampai pagi berikutnya.
kandangpadati, 0810
Musim Tanam
Di mana kautanam dirimu, biar kupetik saat musim panen
di antara benih-benih. Ranggas juga di hatiku
seumpama kita yang jatuh pada musim tanam,
desir angin menyimak di pematang. Adakah kau
yang duduk di dangau sana.
Di kelok-kelok pematang. Kaurambah rerumput
semak umpatmu. Pada kubangan. Keciprak lenyah lenguhmu,
kau mengumpat ujar. Padahal kaudatangi juga
dangauku,
adakah kau bertanam di sana.
Kandangpadati, 0708 – 09 Read the rest of this entry »






Segores Kata