You are currently browsing the category archive for the 'Cerita lanun' category.
Cerpen Pinto Anugrah

Calon Presiden Idaman (Foto: Faiz M)
Hujan telah teduh dan ia menyibak sisa embun di kaca jendela dengan telapak tangannya. Dingin memagut, lenguh napasnya membias di kaca, membuat kaca itu kabus kembali. Ia sapu dengan telapak tangan. Terasa dingin merasuk, menusuk-nusuk, masuk ke tubuhnya. Dan ia segera menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.
“Belum juga datang?”
Dari luar, tampak wajah tua yang pucat menahan dingin memandang dari balik kaca. Matanya memandang jauh, lurus, seolah ia dapat menembus setiap benda yang menghalangi pandangannya. Sedang kabut mulai turun menyelimuti. Seperti menghamparkan sebuah layar putih di hadapannya, yang kemudian mata itu seperti berubah menjadi sebuah proyektor yang menembakkan potongan-potongan kehidupannya.
Mata yang Kemarau
Cerpen Pinto Anugrah
Runcing kaki hujan jatuh tepat menimpa ubun-ubun kepalanya. Cepat-cepat ia berlari, berlindung ke bawah atap rumah yang menjorok keluar. Ditunggunya hujan reda, namun sepertinya akan lama. Di langit awan hitam masih tebal, belum cukup dengan jatuhnya hujan yang baru sesaat. Matanya menatap hujan yang jatuh dari atap menimpa tanah, hingga kaki-kaki hujan itu membentuk semacam garis lurus seakan memberi batas. Batas hujan. Masih cukup lama ia akan berdiri di sana, merapat ke dinding rumah.
Berhubung novel ini belum diterbitkan, maka hanya sedikit penggalan dari novel ini yang ditampilkan. Jika ada yang berminat untuk menerbitkannya silahkan hubungi saya ke email: king_of_chotic@yahoo.com
Anggang
Maka berapalah lamanya masa itu, saat masih bernama Pulau Perca, saat laut belumlah benar surut, maka bermufakatlah sekalian isi negeri di Galudi nan Baselo. Maka lalulah Anggang dari laut merapat di gunung Marapi dengan sendirinya hendak mencari makan. Read the rest of this entry »
Kopi Daun
Disangainya daun-daun itu di atas api setelah seharian dijemur. Ia pun ikut berdiang. Tangannya masih gemetar menahan dingin sambil memegang tudung saji. Setelah cukup rasanya, daun-daun itu diremas kemudian ditaruhnya di dalam periuk. Ia tuangkan air secukupnya, lalu dinyalakannya kompor minyak tanah. Ia tunggu sejenak sampai air itu menggelegak. Setelah menggelegak, dituangkannya ke dalam gelas, lalu dimasukkannya gula sesendok teh. Ternyata petang cukup dingin, cepat ia hirup air itu, panas-panas. Tampak ia rasakan kelegaan, entah karena tubuhnya telah merasa hangat atau karena dapat melepas penat setelah seharian bekerja, tak tahulah. Ia kemudian menggulung rokok nipah dan menyandarkan punggungnya ke dinding balai-balai.
EMMA HAVEN
Seperti siput, kapal itu lepas dari pelabuhan. Galias, kapal dagang Belanda, meninggalkan tanah rempah. Berlayar dengan wajah lesu, seolah jangkar belum diangkat. Mengangkut para koloni, setelah sekutu kalah di Pasifik. Wajah-wajah kalah tersirat dari raut muka mereka, namun dari mata mereka berkata, janji akan merebut gugusan pulau emas itu kembali. Pluit kapal berbunyi tiga kali. Lampu-lampu menara suar menuntun Galias meninggalkan lingkung teluk.
Seorang lelaki berdiri di ujung geladak. Matanya tak lepas memandang ke arah teluk. Ia tak berkedip sedetikpun. Lelaki jangkung yang hidungnya sejajar dengan topi kebun yang ia pakai. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan ledakan meriam dari mulutnya.
Ada yang melambai di teluk sana. Ia melambai dengan sapu tangan putih di ujung jemarinya. Ada yang melambai di Emma Haven. Read the rest of this entry »
Cerpen Pinto Anugrah
Ia berjalan, sendiri. Menyusuri keheningan Kota Lalu yang membangun kenangan. Walau kenangan itu pernah ia lepas. Kini dicoba mengingat kembali. Sebuah trotoar, di mana kanaknya pernah berlari dengan lincah.
“Elfira, masuk ke rumah! Tidak baik anak gadis masih di luar senja begini!” Ibunya berteriak di depan pintu, sambil memegang sapu lidi yang biasa digunakan untuk mengusir kucing.
Elfira makin berlari. Read the rest of this entry »









Segores Kata