Cerpen Pinto Anugrah

Calon Presiden Idaman

Calon Presiden Idaman (Foto: Faiz M)

Hujan telah teduh dan ia menyibak sisa embun di kaca jendela dengan telapak tangannya. Dingin memagut, lenguh napasnya membias di kaca, membuat kaca itu kabus kembali. Ia sapu dengan telapak tangan. Terasa dingin merasuk, menusuk-nusuk, masuk ke tubuhnya. Dan ia segera menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.

“Belum juga datang?”

Dari luar, tampak wajah tua yang pucat menahan dingin memandang dari balik kaca. Matanya memandang jauh, lurus, seolah ia dapat menembus setiap benda yang menghalangi pandangannya. Sedang kabut mulai turun menyelimuti. Seperti menghamparkan sebuah layar putih di hadapannya, yang kemudian mata itu seperti berubah menjadi sebuah proyektor yang menembakkan potongan-potongan kehidupannya.

“Menuju ke mana jalan itu, Yah?”

“Ke kota.”

“Tapi kenapa jalan itu ditelan kabut, Yah? Aku ingin ke sana, Yah, antarkan aku.”

“Nanti, setelah kau libur sekolah.”

Tiba-tiba layar itu terhapus, sebuah bus antar kota menyibaknya, membuat kerumunan kabut terserak ke mana-mana. Ia perhatikan laju bus itu, berharap akan berhenti di perempatan jalan dan seseorang akan turun di sana. Tidak. Bus itu tetap melaju kencang membelah kabut. Dan kini ia kembali merasa sangat kedinginan.

Ia tak lagi mencium bau embun atau dingin kabut. Ada sesuatu yang menjalar ke dalam hidungnya. Bau yang sangat harum, wangi yang sangat ia kenal—yang bisa membuat tubuhnya untuk sesaat menjadi ringan. Namun ia sadar wangi itu telah lama tak menyatu dalam dirinya. Wangi itu seperti diserakkan ke setiap sudut kampung, harum rendang kopi, membuat tubuhnya melayang-layang–melayang ke masanya.

Pagi buta. Ia mengendap di antara rerimbunan daun yang masih basah karena embun semalam. Sedang dari jauh, sesayup, suara orang mengaji sesudah salat di surau seberang sungai jatuh di telinganya. Namun tak begitu diacuhkannya, ia terus saja melangkah, memijak daun lembab, menyibak reranting yang menghalangi langkahnya. Langkah yang sangat hati-hati, sehingga tak begitu terdengar.

Hanya beberapa langkah lagi maka ia akan sampai di kebun kopi milik juragannya, yang ia nilai selama ini sangatlah baik padanya. Sabit yang terselip di pinggangnya mulai ia genggam. Ia merunduk memasuki rerimbunan daun kopi dan mengayunkan sabitnya, merambah rerumputan liar yang tingginya hampir menjangkau dahan-dahan kopi.

Rengek anaknya minta dibelikan sepatu baru kembali melintas di kepalanya. Beberapa hari yang lewat ia sudah ke pasar pekan melihat sepatu baru yang dijual di kakilima sambil menjual kopi ke toke langganannya. Harga sepatu itu sungguh di luar kepalanya, padahal ia sudah bertekad benar akan membawa sepatu itu pulang untuk Tongga, anak tunggalnya.

Hujan telah menjadi temannya dan ia telah berbagi cerita dengan kabut. Ingin ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya yang renta di jalan depan rumah itu. Seakan ia melangkah, memasuki kabut yang akan menelannya.

Seperti dimensi lain membentang di hadapannya, kabut itu menyibak ke atas dan jalan yang terbentang itu bersih terlihat tanpa berujung. Kemudian bata-bata turun dari balik kabut yang menggantung, begitu banyak, mencecah di pinggir jalan, hanya sesaat dan bata-bata itu telah membentuk trotoar di sepanjang jalan. Entah kenapa, rimbun pepohonan yang menghutan itu kemudian bergerak, mengubah pandangannya, batangnya terlihat seperti beton-beton dan daunnya menjelma jadi kaca-kaca yang menyilaukan. Ia terperangah, tak hanya karena perubahan yang tiba-tiba, namun ia terperangah seseorang telah berdiri di trotoar itu.

Seorang lelaki muda dengan badannya yang tegap, berdiri kaku, lurus memandangnya. Ia terkesiap, tersentak dan ia segera ingin menghampiri lelaki muda itu. Namun, kaca jendela menghalanginya. Ia panik seperti orang hilang akal.

“Tongga, Tongga!”

Lelaki muda itu tetap berdiri, diam, memandang lurus padanya.

“Sudah pulang kau. Sudah pulang kau, Tongga.”

“Masuklah, masuklah! Ini masih rumahmu.”

“Masuklah, Anakku!”

Ia menggapai-gapai kaca, tangannya yang tadi merasa dingin berubah kebas. Tetap saja ia tak bisa menggapainya, kaca itu hanya memberikan kesempatan untuk melihat. Dengan kakinya yang terpincang-pincang, ia berusaha berjalan tergegas mencari pintu untuk keluar.

Saat pintu itu terbuka, udara dingin langsung menyerbunya. Ia serasa beku, berdiri mematung, ditambah ia tak lagi mendapati kabut yang menyibak, jalan dengan trotoarnya, dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, semua telah kembali seperti semula. Dan lelaki muda itu, ke mana lelaki muda itu? Ia segera berlari terpincang-pincang menyibak kabut. Lelaki muda itu telah ditelan kabut petang.

Kabut petang, kini ia merasa letih. Kakinya beku, tak mampu digerakkan. Ia tersungkur di tengah kabut, di jalan yang lengang.

* * *

Matahari itu—dari balik kabut—lebur, membaur dengan kabut. Petang kian dingin, seperti tatapannya yang sangat dingin. Ia harus menambah selapis lagi baju dinginnya. Angin lembah mulai turun dari lereng pegunungan. Menyerbunya. Ia tak juga ingin beranjak dari balik kaca jendela, walau di luar kelam sudah mulai merambat.

Kelam. Ia menampik kelam. Saat ia berusaha keras membuka matanya, semua telah tampak lain. Cahaya neon menimpa kornea matanya. Begitu terang, menyilaukan. Dan ia telah terbaring begitu saja di ruangan yang serba putih, dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya, juga dengan warna putih. Kemudian di balik cahaya yang menyilaukan bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan. Bayangan hitam yang berbentuk orang mengikutinya dari belakang. Ia dapat melihat orang-orang itu dari pantulan bayangan sabit yang di genggamannya. Ada dua orang, keduanya berselimutkan sarung berusaha menyembunyikan mukanya. Ia terus berjalan menyibak semak dengan sabitnya seolah tak menyadari ia tengah diikuti. Namun orang-orang itu masih terus mengikutinya, maka ia pun berniat untuk berbalik badan ke belakang. Baru saja ia membalikkan separuh badannya sebuah linggis telah menghantam bagian belakang kepalanya.

Dicobanya untuk mengangkat kepala, masih terasa berat. Ia terhuyung, kepalanya jatuh kembali ke bantal. Dirabanya kepala, tak berasa kulit yang tersentuh. Kepala itu penuh dibalut perban. Ia mengiris, bukan karena kepalanya yang memar.

Tapi sejak itu ia tak pernah lagi bertemu dengan Tongga. Di kemudian hari baru ia tahu, pemukulan itu usaha dari pihak keluarga ibu anaknya untuk menculik Tongga. Sejak istrinya meninggal, saat melahirkan Tongga, sejak itu pula keluarga istrinya meminta anaknya itu untuk diasuh oleh keluarga istrinya. Mereka tak rela Tongga dibawa pergi keluar dari rumah itu. Dibesarkannya Tongga sendiri, jauh dari keluarga ibunya. Dan tak dipedulikannya hujatan yang menimpanya.

“Kau boleh pergi dari rumah ini, tapi jangan kaubawa Tongga!”

“Tanggung jawabmu memang tidak ada lagi di atas rumah ini. Tapi kau juga tidak bertanggung jawab atas Tongga, itu tanggung jawab kami dari pihak ibunya!”

“Tak kasihan dengan anakmu, kaubiarkan anakmu tak bersuku!”

“Nanti ia akan terlunta!”

“Lebih baik ia dengan keluarga ibunya, ia akan menjadi seorang anak yang bermartabat, mempunyai kedudukan di masyarakat.”

“Tak bisa kau seperti itu, karena adat di sini anak berada di pihak ibu!”

“Akan kaujadikan apa anakmu.”

“Kau malah membunuh anakmu sendiri!”

Dan sekarang rasanya kepalanya berdenyut keras. Berputar, terus berputar. Mendenging. Ia berusaha menutup kedua lubang telinganya, namun suara itu terus menyesak. Membuatnya sesak. Akhirnya kepala itu kembali rebah di bantal. Ia tak menyadari waktu terus melaju seperti hembusan angin yang silih berganti, yang membuat matanya berat dan terpejam.

Ia rebahkan kepalanya di sandaran kursi. Entah pagi yang ke berapa, tiba-tiba ia merindui pagi yang bersih tanpa kabut. Tapi tetap saja matahari pagi yang semu kemerahan, malu-malu dari balik kabut–cahayanya merambat, mencari celah menimpa kulitnya. Hangat terasa datang, walau dingin masih menyelimuti. Kembali ia pandangi jalan depan rumah itu. Jalan yang masih lengang. Namun lengang itu membawa ingatannya kembali, ingatan yang manis, senyumnya mengembang.

“Ke mana kita, Yah?”

“Lihatlah arah timur sana! Kaulihat gunung yang separuh puncaknya tertutup awan?”

“Ya.”

“Kita akan tinggal di sana.”

“Di balik awan itu, Yah?”

“Ya, tapi itu sebenarnya bukan awan, Tongga. Itu kabut yang turun karena udara di sana dingin.”

“Apakah ada kota di balik kabut itu, Yah?”

“Tidak ada kota di sana, hanya ladang-ladang yang luas. Dan Ayah akan berladang di sana, kaunanti boleh bermain di ladang Ayah, bermainlah sesukamu.”

“Tante dan Om kenapa tidak ikut, Yah?”

“Tante dan Om hanya ada di kota, Anakku.”

“Tapi Tongga takut, Yah.”

“Kau tak perlu takut, nanti juga kau akan dapat teman di sana.”

“Bukan itu, kata bu guru, gunung itu bisa meletus dan mengeluarkan api yang panas seperti mulut naga. Tongga takut gunung itu nanti meletus.”

“Kau tak perlu takut, Tongga!”

Dan bus itu terus melaju, mendaki, memasuki kabut.

Kabut itu terkuak diiringi bunyi rem yang mendecit dan raung bus dengan kopling kosong. Tak lama bus itu muncul dan berhenti tepat di depan rumahnya. Pagi tetap saja lengang. Sehingga kabut itu kembali menggumpal setelah bus itu benar-benar tak bergerak lagi. Hanya bunyi deru mesin bus yang terdengar memecah pagi.

Dan jauh di belakang bus itu, di balik kabut, samar-samar sebuah titik percikkan berwarna merah muncul dari puncak gunung yang menjulang di hadapannya. Percikkan itu tambah lama tambah terang. Terangnya menelan kabut. Kemudian hilang. Kabut kembali bergumul. Tak lama, hujan debu turun, mencari celah untuk lewat dari selimut kabut.

Kepundan itu jatuh ke dalam cangkir kopi paginya. Di antara sayup-sayup hujan kepundan itu ia masih dapat melihat bus itu berdiri di ujung jalan depan rumahnya. Samar-samar, seseorang turun dari bus itu.

Sungaitarok – Padang, 07 – 0801