
Sembahyang Sawah (Photo: Faiz M)
Tuanku Kaji
dingin usiamu, jatuhlah kepada yang menghamba. Tuanku,
datang seiring angin. Saat petang usai, orang letih
menutup jendela, dalam debar sendiri
bukan kau yang menyilau, hanya bunyi derit ranting,
bergegas angin petang. Dan tawa kecil datang berbondong
menyapu jalan kampung—kerikil-kerikil itu bernyanyi.
Bayang mereka lewat di pinggir kolam. Tersenyumlah di bibirmu
yang paling ujung.
Subuh disuluk suluh. Mereka seperti berbisik,
malas bangun tapi bisik mereka masih terdengar, seperti
dengung lebah, pasti, Tuanku. Janganlah terpancing
teruslah mengaji, membaca alifbata, sebelum suluh disuluk
pagi menggantikan. Dan Tuanku, ia hanya tertawa kecil
bukan muram muka yang terpakai.
Kemudian aku mengingatnya, lama. Tuanku,
yang berjalan di hening petang. Hendak ke mana, teriakku lepas
pecah segala, tergagau ia berjalan. Namun, ia tak mampu menoleh
kaki itu melangkah lagi. Aku terlanjur menghambur ke dalam
semak. Tak takut tersapa kau, bukankah aku telah lebih dulu menyapa.
Semak mampu membuatku mengaji, helainya menghela.
Besok di hari pasar, aku akan mencarimu dan kubaca keras
pengajian semak. “Tidak, kau hanya menyemak saja!” Tuanku,
rotan di hilir membaca telapak tanganku.
Isakku tertatih di ujung tongkatnya, pecahlah hening kampung.
Berbondong orang melukah sawah. Ia pun berlari
ikuti kelok pematang. Panen tiba, aku tak ingin mengaji lagi. Tuanku
lupa, hari pasar di kampung seberang. Siapa yang hendak menukar
uang minyak jadi segantang beras. Suluh berkedip
bermain dengan angin. Menjilat tonggak tua di tengah surau.
Siapa yang memakan usia, Tuanku.
Jadi, petang itu kita kembali bersua. Mengajilah selepasnya
di raut muka, lepas irama. Orang pun mulai tidur di benaknya. Datanglah
secepat mungkin, agar mereka tak lagi mengantuk.
Aku pun datang melepasmu. Menyuamu. Dan dengung suaranya,
lebah-lebah, mengerubungi jantung, masih terdengar
beratus tahun, sesudahnya, aku yang telah berjalan di trotoar kota.
kandangpadati, 081120-27
Mencuci Selimut
Aku harus menjemur, di ujung rumah
tali telah terbentang. Semalam basah, di ujung kakiku
yang menahan dingin. Lalu kenapa tak datang,
padahal aku telah siapkan kain rendaman
untuk kau bilas. Di ujung rumah
embun membias, menguap di kaca-kaca
dan masih kutemukan wajahmu di baliknya. Sapulah dengan tangan
agar jejak itu kering oleh terik siang. Di lantai marmer putih
jejakmu menguap. Udara di sini cukup lembab, jangan kau
langsung menggerutu. Mungkin nanti sore kering juga, melambai
disambut angin. Angkatlah rendaman dari tangismu.
kandangpadati, 081204
Usai Petang
Petang berangin-angin, aku merasa cemas. Di sini sepi. Orang-orang
entah ke mana. Tiba-tiba aku merasa takut di rumah
sendiri, padahal di luar anak-anak melepas tawanya bersepeda.
Hujan pun berlari ke arahku, kau tunggu di mana
derasku, hingga rambut ini basah. Sudah usaikah petang
setelah kau lihat burung-burung pulang ke sarang, diam-diam
kita pun berbagi rahasia. Simpanlah di palung dadamu,
suatu waktu akan kugali setelah hujan usai, ataukah petang
yang menunggu selepas tawa. Bisikmu,
“aku dengar derit ranting patah.” Sangka terhadap angin,
aku pun berjalan sendiri melawan arah burung-burung pulang.
kandangpadati, 081206
Hujan Hutan
Dalam hutan, hujan pun hadir sekedar
minum lumut. Langkah lembab
datang hati-hati. “Ia akan meneruka,
membuka kampung.” Bagi yang putus
Dengan jantungnya sendiri, sembunyikan
degup. Pada patok pertama—kapak melayang
memecah jantung. Terkesiaplah sekalian.
Antara hujan, hutan pun merambat
makan tanah. Langkah tersungkur
tak hati-hati. “Aku akan pergi,
tinggalkan kampung.” Debar jantung
terbusung. Bertalu seluruh kampung
adakan helat. Tapi tak ada tuak untuk mabuk.
Mereka telah menari.
kandangpadati, 081017
Wangi Cengkeh
… yang datang, di antara angin. Menyusup dari balik dinding. Datanglah diam-diam, sebelum hujan turun. Ribut angin. Suara kita bercampur dengan derit ranting patah. Diam-diam kita pun saling bicara dengan kata yang paling degup—oh, kukirim wangi cengkeh di antara manis tidurmu. “Pulanglah!” Sebentar lagi hujan dan aku tak ingin melihatmu menangis di bawah gerimis.
Selalu kauhempaskan masalalu di dadaku, tapi tak kunjung pecah berkeping. Sedang dada kiriku terus berdegup. Aku takut kemarau menghalau nyaring bunyi daunmu.
Seperti derai daun cengkeh pagi itu dan kita sama-sama masih berpagut gigil. Aku pun jadi candu di dalam rasa yang begitu manis. Namun, lagi-lagi, kautawari silau kaca di antara hiruk-pikuk pasar. Memaksa untuk tawar-menawar harga. Aku hanya ingin di sini, termangu, menghirup wangi cengkeh, hingga sampai pagi berikutnya.
kandangpadati, 0810
Tarik Ulur
Suatu saat aku pun akan teringat layang-layang, yang
mengambang di keluasan mataku. Dan suatu saat aku pun
akan menarik ulur, hingga ke kedalaman tatapmu.
Jika datang saatnya bayangnya menutup pandangmu,
maka ukurlah seberapa jauh ia letih menurutkan letih hembusan.
kandangpadati, 0810 – 11



7 comments
Comments feed for this article
Desember 14, 2008 pada 10:14 pm
mairaekasari
bang, kapan akan mengajari ia berpuisi?????
puisi yang akan abang kritik….
Desember 16, 2008 pada 8:48 am
maira eka sari
sebuah puisi adalah luapan perasaan dari penyairnya. baik itu perasaan karena kejadian yang di alaminya juga perasaan saat melihat yang terjadi pada orang lain. di puisi tuanku kaji, saya melihat sesosok kafir yang menunggu surga itu. tapi itu masih dalam wacana keraguan.
Desember 18, 2008 pada 5:59 am
aku
wah wah wah …… sejuk sekaliii ^_^
Desember 18, 2008 pada 6:09 am
aku
di halamanku aku lihat realita ^_^ dan di halamanmu aku bisa tenang ikut bermimpi “))
balance kita yakk ^_^
Desember 18, 2008 pada 11:57 am
tutut
puisi yang bagussss^_^
Desember 20, 2008 pada 10:17 am
aku
” seperti apa realita itu?
aku lelah dengan kelelahanku
aku gelisah dengan kegelisahanku
mudah-mudahan…hehe
cht ”
realita dimana kita bangun dan mimpi masih begitu jauh temanss ^_^
Februari 3, 2009 pada 12:39 pm
ia
bang,sebenarnya puisi itu untuk apa?untuk siapa?penulis atau pembaca?karena pada umumnya puisi adalah akrobat kata-kata yang sulit di pahami.