Salvador Dali

Lukisan: Salvador Dali

Sajak Parole (01)

Jendela yang kaututup pada pagi, tak ada timur

yang kausimpan di kamarmu.

Dan siapa yang menghuni kabut.

Kandangpadati, 080319

Sajak Parole (02)

Kubaui, petang mesum di kamarmu. Sedang di luar panas

apungkan kau, dalam uap letih. Ada yang kaujemput di ujung jerami

pada penghabisan hujan.

Musim masih beralih pada tahunmu

dan aku takkan memanen jika lesung masih berlumut. Di hantaran

rumah, yang masih lengang.

Kandangpadati, 0803

Sajak Parole (03)

Berulang sajak yang menahun. Masih kaucatat,

kata dalam semak, yang disematkan di dinding

nadimu.

Tunggu, aku berkabar dulu, di ujung

padi yang menusuk hidung. Wajah penuh miang.

Kandangpadati, 080324

Sajak Parole (04)

maka jadi, tak jadi aku.

Kandangpadati, 0803

Sajak Parole (05)

Siapa yang kaupikir akan datang. Takkan ada

sebelum panen usai. Sedang kabut

masih selimuti hati ibu, yang menumbuk lesung

di halaman, kita, hanya jadi tempat untuk melepas

orang-orang yang hendak lepas, yang hendak

menampak punggung, takkan ke mana-mana.

Kandangpadati, 0803

Sajak Parole (06)

di tangga yang masih menghitung silsilah,

jika kau tegak nyalalah sekalian mata. Tak kuasa

kautolak segala pinang. Tak takut kau

tak berbuah lagi, maka hendaklah ada yang menjemput.

Maka tak hendak ada yang menjemput.

Maka tak hendak kau hendak kujemput.

Kandangpadati, 0803

Sajak Parole (07)

baju itu kering, di tengah hujan yang mengguyur.

Hanya ada kemeja yang terjemur dan atap-

atap rumah yang basah. Ada yang masih duduk di beranda

menunggu seseorang yang pulang, esok pagi

yang masih berselimut sarung. Tak kaupakai baju

saat angin masih menusuk pusar. Lalu kita yang kemudian

berangkat dengan mata memerah.

Aku yang menahan kantuk di putaran roda.

Kandangpadati, 0803

Sajak Parole (09)

Pintu yang terbuka, masuk angin. Siapa yang datang

kemarin. Tolong tutup kembali. Di bulan ketiga,

hari kelahiran yang memuakkan; Aku

menunggu hujan dengan jalan yang tergenang. Sambut aku

dengan gelak. Dan selepas hujan yang berhari-hari

pintu masih terbuka,

setangkai bunga tumbuh di depan pintu.

Kandangpadati, 080309

Sajak Parole (10)

di rinduku mengais pada lubuknya. Dalam rambutmu yang pecah

di belukar. Padahal ada juga yang terkesiap, musim ternyata kering

di pucuk-pucuk pala. Kita kemudian menjejak

di jalan setapak, yang lupa menuju kampung.

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (11)

- tampuk hujan

Hujan yang lepas pada tampuknya. Ada yang patah di sepengujung

penggalah. Ia yang menari, terus menari. Tak ada yang lepas

di kemarau, walau terus menganak pada sungai. Ranting-ranting hanyut

tersangkut, tak ada yang memungut. Hujan patah pada musimnya.

Dan siapa yang turun dari tampuk hujan. Gemuruh mengiring.

Iring ia ke muara. Berlabuh di bandar-bandar. Kabar pun sampai

pada tarikhnya. Orang-orang mencatat. Menyimpannya di mulut

lontar. Angin terus mendesau membawa waktu. Ia tak perlu risau.

Teruslah menari dalam diri. Anak dagang yang datang selepas musim.

Hanya persuaan, setelah muara kering dan kapal

yang membangkai. Dalam peti-peti yang terhempas. Ia menunggu

angin gunung yang kembali menghimbau.

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (12)

Kita memulai kabar pada hari yang kesekian. Di lindap malam,

yang menunggu untuk dikecup. Hanya sesekali, terkejut rasa hati

ingin mendengar. Tak sampai sudah

di pengujung. Kau sudah terlelap.

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (13)

jikamana, semua telah berlepasan dari pucuk, maka jatuhlah

menimpa tanah. Namun ia tetap saja menunggu

angin berpusau. Aku menahan kantuk.

Lama-lama, aku pun lapuk, di mukamu.

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (14)

(siapa yang akan bertanggungjawab untuk sajak ini, apakah

kau sebagai kekasihku atau kau sebagai teman tidurku)

Di sesuatu yang pecah di bulir-bulir peluh. Kau datang

dari aspal yang menguap. Kau pun menyatu, panas yang pasi.

Siapa yang hendak mengguyur, biar demam. Tak sampai

pada malam. Yang menghimbau-himbau:

patah sunting dapat ditikam

patah hati badan binasa

Di malam yang terus menggelayut, pada hujan, aku lupa

membalas tangismu. Dari seberang, terus memanggil

dengan rambut kusut, badan terabaikan. Tak tentu lagi.

oh, anak gadis mana lagi yang akan memanjat dinding

aku tikam kau dengan hati, aku ikat kau dengan budi

(siapa yang akan menyudahi untuk sajak ini, apakah

kau yang berkasih-kasihi atau aku yang berkasih-kasihan)

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (15)

atau aku yang tak pernah mencatat, setelah berhari-

hari, yang lewat. Setelah dengung kumbang.

Ini malamku, yang terus berputar dalam pita

kaset. Oh, sungguh kau akan sulit menemukanku

dalam bak sampah, amis lauk. Seperti bau tubuhmu

yang bertahun-tahun, melupa diri kau, dalam

aku pun sesudah itu.

Kandangpadati, 0803 – 04

Sajak Parole (16)

- antar ingat

Lepas, tengah hari. Kita berangkat juga

dalam hati, berat beban. Ada yang kaucemaskan

di bangku bis, menuju kepulangan.

Lepas hati tak berasa. Mata tidur, hati terjaga.

Aku tak ingin bercakap, juga tak pernah ingin tahu

namamu. Nikmati saja laju jalan, dengan pongah

daging kita yang lembab.

Ada keringat menetes di dahimu, aku tak urung menyapa

atau sekedar menghapus dan aku tak ingin membawa

apa-apa. Di pucuk matamu, biar

laju ini akan sampai jua di tujuan. Mengantar ingat.

Padangsibusuak, 0805

Sajak Parole (17)

- ladang jantung

Di tanahmu, aku hanya sejumput akar

tak kunjung jadi batang. Di mana kau bertanam

di jantungku, biar degup. Memacu di sini

jadi rindu. Mungkin

di suatu waktu, aku akan cerita

dalam sayup-sayup kantuk; aku hanya peladang

yang menanam hari di awal pagimu dan akan kutuai kau

di ujung petang—mungkin akan kauanggap sebagai

pinangan. Di jantungmu

Payokumbuah, 0804 – 05

Sajak Parole (18)

- tanah lenyah

Tanah lenyah, sebagaimana aku akan menancap

tiang atau membangun pondok. Tempat dahagamu

kusalin jadi peluh. Ceritaku pun usai. Seiring malam berlepasan

mengiring di pematang. Dan apa yang jadi menumbuh

di tanah, setelah bajak membalik. Ada wajah merundung

petang, yang sebentar lagi usai. Pondok-pondok

melekatkan pelita. Di ruang dirimu. Sesudut senyum

jatuhlah malam, yang jadi rahasia kita. Esok akankah panen.

Payokumbuah, 0804 – 05

Sajak Parole (19)

- taut lepas

Ia kemudian tumbuh juga. Namun kembali lepas

oleh angin yang berdatangan. Sore itu.

Ia kemudian putus juga. Namun kembali bertaut

oleh sauh yang dilempar. Petang itu.

Kandangpadati, 0805

Sajak Parole (20)

- sarung malam

Kau pun bersarung malam

di rumahku. Maaf, aku tak bisa memberi selimut.

Di sini hanya ada kopi dan cerita

sampai esok pagi. “Aku ingin kau tetap lelap.”

Kandangpadati, 0805

Sajak Parole (21)

- selepas mata

Sebagai diri kaubangun aku dalam matamu. Hias pandang

pengantar mimpi. Hendak kau tertidur.

Aku pun beterbangan. Seperti kunang-kunang, di matamu

kau menangis. Yang berkaca-kaca. Basah, membasahiku

—toples itu pun dipenuhi air, hingga akhirnya

tutupnya terbuka.

Maka semua berlepasan. Matamu yang telah kosong.

Kandangpadati, 0805 – 06

Sajak Parole (22)

- nama

Nama yang ibu berikan padaku, hilang

di tengah jalan. Aku yakin terselip di antara kerikil

tajam. Dan bayang-bayang mata ibu yang tajam,

menghujam. Tubuhku pun seperti diguyur hujan.

Lebih baik kucari nama baru, namun takut hilang.

Aku tak mau kehilangan ibu di tengah jalan.

Kandangpadati, 0805

Sajak Parole (23)

- takut pusau

Kenapa aku harus melarikan diri, dalam

takutmu. Padahal aku tak pernah janji untuk jadi seorang

padri, yang sangat takut

akan matimu. Yang suatu hari kauteriak,

“di mana kauletakkan matiku!”

Dan ibu yang langsung meraung. Jika tahu

sebenarnya. Aku hanya rindu

tapi aku takut akan cinta, ibu

yang membawa kelindan hari. Jangan-jangan

suatu hari aku pun bisa bunuh diri.

Atau ini hanya perasaan cemas. Jika kau suatu

waktu, yang lampau, maka jelmakan aku

dalam selimut tangismu. Namun tetaplah, saat ini

aku masih berputar dalam pusau angin.

Kandangpadati, 0805

Sajak Parole (24)

- tuba tabu

kemudian dalam hari yang lemah jejak. Bisikku

dalam maaf sehari penuh. Bagaimana ia akan membagi

jika bilangan hati tak genap, dalam hari perhitungan.

Ini hanya nujummu, sayang! Sungguh disayang

ia lupa akan tabu kampung. Yang mendatangkan tuba.

Kandangpadati, 0804 – 06

Sajak Parole (25)

- punggung telanjang

Setetes hujan jatuh di punggung yang tengah

telanjang. Gigil mendesir. Seperti cumbuannya

membaca hariku yang cemburu.

Kepalang basah, kemudian bermandi hujan.

Tak ada yang dicemaskan, kecuali

sakit. Hati membengkak. Memamah

badan. Tak cemas tak bertali. Badan

tinggal diri. Seorang kau.

Kandangpadati, 0805 – 06

Sajak Parole (26)

- putik tanah

Bermula dari tanah. Maka dengarlah aku

sebagai kuntum. Tengah mekar, dalam guyur hujan.

Tak setangkai pun jatuh, putik yang tak jadi.

Muasal. Aku memijak.

Kelopak yang jatuh tak memungut. Lupa ia,

hilang, jadi tanah. Hujan pun turun

memanah, kembali tumbuh. Di tanah gembur.

Kandangpadati, 0805 – 06