Kenapa saya tampilkan sajak-sajak ini di blog saya, entahlah, mungkin karena saya sedang rindu dengan seorang sahabat/guru/yang saya tuakan dalam perjalanan kreatif saya. Ya, Hariyanto Prasetyo, sosok yang pertama kali mengenalkan saya dengan puisi dan yang mengajarkan saya bagaimana cara menulis puisi, yang membuat saya menjadi seorang “preman kutu buku”. Sosok yang ulet, nyentrik, pendiam, lelet, dan bahkan memiliki dunia sendiri yang tak bisa disentuh orang lain.
Lama tak melihat batang hidungnya, bahkan saya kehilangan jejak di mana dia berada sekarang dan apa yang dilakukannya. Terakhir bertemu dengannya bukan di Padang (tempat domisili kami) bahkan jauh, di Yogyakarta sana, saat mengikuti “Temu Penyair Muda Empat Kota” tahun 2007. Sungguh menggelikan bukan, terakhir bertemu dengannya bukanlah di Kedai Owen—tempat kami biasa berbagi cerita tentang apa saja—Padang, malah di negeri orang. Waktu itu, di Yogyakarta, saat kami pisah, saya pulang ke Padang dan dia katanya mau singgah ke tanah leluhurnya di salah satu desa di Jawa Tengah. Ah, entahlah, mungkin suatu waktu saya akan berjumpa juga dengannya.
Ini, sedikit dari sajak-sajaknya yang tertinggal di file komputer saya.
Seikat Rubaiat
kau, aku, sepah pahit sumpah kita
padahal aku cintai kau sesama kau
cintai aku. Lantas, adakah kita
cintai aku sesama kau cintai aku?
apa yang mengikat kau aku mengingat kita?
Cinta? Hingga saling berlupa dilukai cintanya
berkita ada lantaran kau, lantaran aku
yang mereka rekah fajar, di ufuk esok lusa, selalu
dari dulu, kau paksa aku cintai kita
serupa aku paksa kau untuk setia
gosong lumut kerak ingatan cedera
bekas asa sasar dihingar dusta di parade senja.
Masih bersisa, memang:
Bercanda, berdoa
bercinta, berkenang
dan selanjutnya, kita lupakan kau aku ke dalam tiada.
Kapalo Koto, 13 Agustus 2k5.
Ke Akanan
Ke akanan, arona akan berpulang
seakan bayang burung melayang
ke arah hilang. Memang, begitulah
selalu ada yang merasa. Tapi, di sanalah
nelayan segera memurupkan lentera.
Menerka badai, berlaut menembus senja
mencari berkas bintang dalam senandung
kembali, menjelang ufuk ke semenanjung.
Cupak Tangah, Juni 2k6.
Oryza Sativa
oryza sativa, siapa rupanya
bapa baptismu?
*
gemesir gemetar bilah-bilah
memulas hijau yang menghampar
*
undak-undak, petak-petak
aku resapi nan tak nampak
*
kau suka aroma benang sari
yang ditiup silir dari padi hingga matang
*
kau yang sabar, betapa sabar
pada padi paras ranum seorang dewi
*
ruaplah gerai terang daunmu
seraplah gelimang gemilangku
*
padang-padang merbah
musim-musim merebah
*
Tangkai-tangkai tafakur
kian runduk dalam syukur.
*
atau kau tertekur, mengalir
menerjemah gericik, bebulir surah air
*
kur, arah mana gema tekukur
pada umur di tujuh likur
*
jemari-jemari menghimpun jerami
kauhidu baunya memenuhi rabu ini
*
oryza sativa, siapa rupanya
bapa baptismu?
Cupak Tangah, Juni 2k6.
Gestural, Ketiga
ya, hutan menyimpan hujan
hujan menyetumbuh hutan
kau kasih aku tubuh
aku benih kau sintuh
dingin akan kembali
tapi ingin akan lagi
melesak dendamku
melumas gerumitmu
gerak jadi belukar
ucap jadi pacu
ah, rusuh tubuh
tambah tumbuh, berkecambah.
Rimbo Bujang, April 2k6.
Di Ujung Tanjung
–bagi seorang orang muda dari selatan.
Ke ujung tanjung
angin datang
bersama terbang cericis camar selancar
di atas gelombang.
Dan kau pun kupandang, selat
di ujung karang, antara terjal tebing juga curam jurang.
Selat, gerbang maskapai para saudagar bersilang saling simpang
merapat atau berangkat, menambat atau melepas….
Kuli pelabuhan berbungkuk memunggah barang dagang
memindah yang punya siapa entah, dekat galangan.
Di ujung selatan tanjung
karang-
karang garang, geraham purba, nganga
melahap menghancur ombak-
ombak yang terbentur—mengaumkan raum raung
—yang tak reda
yang tak redam.
Karang tertatah lembut laut
juga dikerubut lebat lumut.
Hijau bakau paya payau
peluh nelayan garam amis
miasma, membersit-bersit
dari jangat yang mutung.
Ada gunung memulau hijau.
Ada bunting beranak gunung
tegak tegar
di tengah segara. Krakatau,
dengan kawah mangap, menguap
bagai golak dari dalam belanga ibu
yang menanak bubur batu
kepundan
yang menjerang air biru
pernah membentang banjir menggempar besar
ketika tongkat musa dan bahtera nuh tak lagi,
ketika siang jadi kelam, malam jadi merah, orang jadi jerit, bumi jadi buncah,
bancuh.
Tetapi, di sepanjang pulau ini
barisan bukit coklat-hijau serupa tentara yang tak lengah.
Huma-huma digerayak hama. Ladang-ladang lada
bau pedas tropika yang menghangatkan dataran rendah utara
searoma pala di pinggir timur. Atau kopi, getah, teh, arang batu, gula tebu, kayu manis
yang sangat pahit, sangit yang sangat sengit, amat amis dan merancap keras, semenjak dari hulu.
*
Di Rajabasa ketika suara subuh
arah surau, mengacuh
parau parah menempuh. Dan suara sibuk
memecah hari, lantak.
Siang dibentang arah berpencar
dan, para pencari pada pergi. Bertebar
sisa sengak perjalanan, sisa mabuk atau kantuk
terantuk di terminal, matahari di saban hari
masih menindih-nimpa menujah-nikam kepala.
(Setelah semalam: anak jantan menyelip sebilah tajam yang terasah pasah,
rajah naga menoreh di pengkolan badan, gurat yang tergubris jalanan,
sendawa bau keras cap macan, ngamuk, meneriakkan pekik makian,
seraya menumbuk langit, “anjing!”. Langit melolong. Pagi terkapar.)
Apa berita hari ini?
*
Kabarnya kau, di kota itu
tak lagi beredar
kini di mana gerangan?
Mengapa musim jadi kusam?
Mungkin kau masih di kamar, seperti pupa
menulis apa yang teringat: menerjemah isyarat,
menafsir kesunyian,
mengusut apa yang sekilas lalu, pesan pendek itu.
Cinta, benci, terkadang
ke kota ini, sepantun dermaga bandar
tatkala dayung-dayung biduk sibuk, bersinggah,
berpisah—tak terkalah, tak terkalah.
Beberapa jenak, kau beranjak
meniup siut siul
menembus ke kesenyapan gang
bulan seakan hinggap di ranting randu
pipinya memerah jambu
(sebenarnya bulan persis di kawat listrik, lalu penjaga malam menokok tiang itu, tiga kali.)
“ah, aku setengah cinta
padamu, kota.”
Kau pun berkisar. Menyusur kelengangan los pasar. Pukul 03:00. Sesiapa kiranya?
Sebelum aku lagi kehilanganmu. Sebelum kulupa: satu wajah satu nama.
Siapa kau, seseorang dari selatan? Kirim aku semacam pesan.
Kau akan mengeloni rahim malam,
hingga hamil kata. Setelah lalu jam 3.
*
Kau bersajak, kau pernah bersajak,
yang lalu kuingat
yang telah kukenang
yang akan terbayang
yang sedang kulupa.
Bulan
bukan purnama, tak sempurna seroman perunggu
bersepuh suasa
di bangsal malam termangu, tugur
menunggu
atau beralih pelan dalam tidur.
Tapi selalu, bila tiba sepenggalah hari
bulai bukan bulat seakan memucat seri
serupa pasien
insomnia
ketika para nokturnal absen
mencari. Mencari
di kota bandar, lampu-lampu telah menghalaunya
memikat rama-rama
yang tak lucu, yang tak
lucu.
*
Di lazuardi
laut biru langit luntur
pastel
serupa akuarel
di kertas kuyup terguyur.
Kenapa cinta menjelma jadi jemu?
Sepantun sirah separuh semu, Kekasihku.
(Entah sejak bila kau kangen
laut yang seperti sajadah hijau alga
terbentang dan kau perahu yang renang-berenang,
oleng diombang ombak gelombang, atau
menyelam ke dalam relung palung paling dalam
tanpa sepasang insang—diamuk cinta, dimabuk cinta.
Kau, di lubuk laut tak ubahnya plankton tembus pandang,
memancarkan denyut yang terus terang.)
Sore dihadang petang
saat gelap belum genap benar,
terkadang kau memandang
saujana dari tepian laut, menyaksikan (mungkin menyangsikan);
bayang burung-burung pulang, cahaya megah senja menggilap paras air dan mega
yang menyurup…
kau bayangkan sebentuk teluk
yang tak hendak takluk, yang
tiba-
ti-
ba ingatanmu
bagai memudiki sebatang Way
masa silam, yang seolah hangat melambai,
“…puisi, barangkali
sesayup senyap orang-seorang
diriuh-rendahkan bandar ini….” Gumammu.
*
“Adakah kaukenakan selapis tapis
di dinding dingin ini? Apakah akan kaureraskan
sebelai angin di dingin ingin ini? Di pusar kota
di kubus-kubus kaca atau pilar yang membundar,
di sesudut atau sisi-sisi yang persegi
di mana kau seperti tak pernah ada. Dan
kau tak lagi berucap apa-apa tentangnya.
Kau pun, berbagi sepi dengan dunia”
*
Sekiranya hujan bulan ini,
tak terban sebagai mata gelap yang gabak tercurah, maka
kau akan senandungkan dendang
atau kauucap pantun, berbakulantun:
bunga tanjung, kembang karang
di laut mekar, di bukit kembang
bukan berhitung untung & malang
terlalu membenar ke kasihku kusayang.
Ketika itu,
nun, seseorang Kinasih melarungkan sajak
yang mengarung lepas laksana jung
dengan laju seribu warna layar
ke ujung tanjung.
Dan ketika itu,
kau memandang selat, berdiri, sendiri
di ujung karang, antara terjal tebing juga curam jurang
di ujung tanjung.
Di ujung tanjung
ketika angin datang.
Cupak Tangah, Awal Juni 2k6.
Sepantun
Sepantun lembut lumut menggerumut batu
lapuk tembilang membilang waktu.
Berbantun lebat lugut buluh perindu
lintuh menggenang mengenang kamu.
Lapuk tembilang membilang waktu
melesap raung laut di tebing beting itu.
Lintuh menggenang mengenang kamu
meresap gaung itu terserap dendam merindu.
Melesap raung laut di tebing beting itu, bersibantun
awan di angin lalu. Meresap gaung itu terserap
dendam merindu, berbakulantun angan beringin kamu.
Bersibantun awan di angin lalu, sepantun lembut
lumut menggerumut batu. Berbakulantun angan
beringin kamu, berbantun lebat lugut buluh perindu.
Cupak Tangah, 29 Mei 2k6.
Jejak Kata,
Jejak Luka.
rautmu, kecut dan bekuran, menyimpan
pekuburan hikayat, riwayat mendiang
yang membilang ingatan yang sekilas terang
sekelebat hilang, seperti bekas mimpi gelap
pagi hari, seperti sirah kinasih menerobos
kelebatan hujan raya dan jemari air menghapus
setapaknya atau telapak lengkisau mengecoh arah,
rautmu, setengah tunduk bagai cemas cahaya
sore menjelang petang padam, di aubade senjakala.
“Jejak kata itu jejak luka.” Entah kata sesiapa.
Parak Karakah, Mei 2k6.
Buat Y.S. di Goedang Ransoem
1891. Seabad lebih sejak itu,
kata sahibul kabar, kota lama sendiri saja
memelan dilampaui kelampauan
bayang bayang rembulan, memanjang…ai, terlampau benar.
Lajur jalur rel lekang, loko, lori mati
raut romanmu menyusupi kelam hari. Yang lalu
berbakubantun, dan sunyi menulikan lantun
dingin mendesau risau
bahumu menahan terik menahun
tebing terserap abad merembes
…gali, lagi, gali kembali….
Di pinggiran ada pigmi menghuni kapang
di rerimpang akar di rerongga ngalau
nasib tersalip sepanjang tempuhan
ke arah jam dinding menara, tugu tegar
yang tak mengerjap tak berbelas
setapak sengsara di 1918.
Dan pekan berakhir, mercu cerobong
tinggal jelaga, atau kosong
mungkin rangka: karat yang berlarat,
arang kambria, gudang, tangsi, pabrik, stasiun, alun alun
hantu, kota terlunta bersilantas waktu
adakah yang memerdu
dalam parau igaumu?
Yang tak bersalinkan huruf kapital
para perampas. Ai, ingatan, tulisan, lisanan.
Dalam dusta dalam lupa dalam sekarat konsonan.
Sawahlunto, 18 Desember 2k5.
Di Kafe, Desember.
buat m
oi, bahkan, di tempat ini genangan kenangan
terseka darimu yang tak sudah
singgah dari tak-tik jam dari gerak gerik cuaca
o, kenangan, tak terselamatkan dari ingatan
yang terbilasbersih penghujan, akhir
musim kuyup mengeramas gerai daun
dari ratap-ingat, langit yang sembab
gerimis itu tangis, diredam hati yang turun
teriris lirih bansi, denting dawai, derai gelak
kita pernah, bersitatap dalam rindu dalam jemu
o, cintaku, aku mencintaimu, juga pada kenangan
yang membunuhku dengan lembut dan perlahan.
Limau Manih, Desember 2k5.
Seribu Musim, Kupu-kupu, Kanak-kanakmu
buat Linda
Kau ingat di suatu masa, saat
embun-embun sayup tertahan pelan
menyerbuk di antara bukit hijau tusam
kau bertanya, “ini musim apa?”
“Musim langsat yang lebat.” Sahutku
dalam langkah lincah
tungkaimu menyusur batu dan arus. Pagi girang
sepenggalah mentari
yang menari seperti gelombang.
“mengapa di lembah ini ada seribu kupu?”
entahlah, kelebatnya serupa teja yang terurai
ruap padi, harumnya sampai jua di hatimu
Pada dahan siul murai berderai
dan angin menjamah kainmu
Yang gemeletar. Dia tak pernah
mengetahui sekuntum puisi, seperti sarang merbah
pada pelepah, pokok pinang—yang tersembunyi
di cerah hari itu.
Kubayangkan kaulintasi padang prairi, di selanan kalakanji
di kini, akunyanyikan sunyi, masa kanakmu.
Padang, November 2k5.
Untuk Yet
Dalam susun dalam tumpuk atau serak
ingatan bergerak berdiam tak
menentu. Hanya kita rasanya tahu
kenangan serupa mambang dari masa lalu
Bayangkan, bila bayang akanan bagai
cahaya kelam, bayangan terang berkilasan
meniada kau atau aku.
Setelah kau bercerita, dan aku berkata
maka, antara bunyi dan sunyi kita
betapa musykil, betapa entah
berpapas sapa. Kau aku siapa sesungguhnya? Ah.
Mimpikan, di rimba ini peri pagi
menari meniru kupu juga gangsa, gelak si upik
riang sebelum siang sebelum petang sebelum pulang ke riba.
Ulu Gadut, 20 Desember 2k5.
Jelaga Sisa Malam, Kau Berjaga.
Di penyap udara, lipit hordin bergeletar
disentuh subuh. Segar seperti sebentar
sebelum derum, dan terang terhantar
mengenai tubuh.
“Kau gemintang di malam hatiku…
yang dingin mengerdip-ngerjap, biru
di gugus semesta, di asal kata….”
“Sudah siang hari melaluan diri, kawanku.”
Kau tersirap, langit lapis lazuli
fajar menyemburat bukit. Meski
membenar, tak terkabul padamu
tik-tik sekon menelusup menubuhimu.
Padang, 25 Desember 2k5.
Langgam Laun
di mukamu segala berhenti bermain
selain jarak bergetar mengukur
seberapa dalam dasar, seberapa luas tepi yang lain
betapa lamban, begitu lekas melikur
usai, usia pun terbilang, dan nafas abai mengurang
waktu adalah kanker, kepiting yang menggali umur
yang mengalir menerjemahkan cuaca, angin, sinyal yang datang
mengapa mesti yang menyentuh ini, seberkas isyarat, membuatmu surut?
padahal badai berderai, pada ihwal laut lerai: cangkang lekang, karang mengangsur hilang
kadangkala dalam geming, ngungun tertabur lugut
dan gelisah tak pernah sudah, gundah tak pernah mungkin
membiarkan gejala ganjil bertanya janggal, menunda saat yang menunggu, beringsut.
Kapalo Koto, Februari 2005.
Tentang Kita
misalkan kau aku menjadi kita
maka bayangkan kimia apa yang bersenyawa
andaikata kita adalah fiksi kau aku
maka kenangkan semua yang indah tentang cinta
(ondeh, siapa kita itu sebenarnya?)
misalkan kita menjelma kau aku
maka ciptakan memoria, untai kristal yang bertaut
andaikata kita adalah cerita kau aku
maka kenangan bagai bayangan yang mengingatkanmu.
Kapalo Koto, Februari 2005.
Maut Seperti Dosa yang Mengancam Kita,
Seperti Mengait Kenangan yang Melepas Kita
ceritakan lagi padaku satu persatu kisah itu
yang lama kau, aku telah alpakan seluruh ini
seperti endapan kesedihan di masa lalu
yang sekilas menampakkan kita sebagai mimpi
yang lama kau, aku telah alpakan seluruh ini
kita berteman malam, bertutur tentang nada awal
yang sekilas menampakkan kita sebagai mimpi
dan saling bertukar pengalaman sebagaimana ini berawal
kita berteman malam, bertutur tentang nada awal
sepenggal alegori, folklor cabul, sebuah novel yang belum pernah dituliskan
dan saling bertukar pengalaman sebagaimana ini berawal
sebelum gelap ini berakhir, sebelum kita ini terpisahkan
sepenggal alegori, folklor cabul, sebuah novel yang belum pernah dituliskan
ceritakan lagi padaku satu persatu kisah itu
sebelum gelap ini berakhir, sebelum kita ini terpisahkan
seperti endapan kesedihan di masa lalu.
Kapalo Koto, Februari 2005.
Bantun
batang beringin akar dibantun
dibantun prahara tiba bertalu
bukan ingin hendak berpantun
di pantun terkata bila berlalu
berlalu masa dalam derita
derita kita beroleh sepi
dilalu raga kelam berita
cerita luka tertoleh tepi
tepi musim tiada berganti
bertukar harimau dengan buaya
tapi mungkin cuaca berhenti
berubah harimau sulihan buaya
buaya menghilirkan airmata
mata air kepiluan yang sama
justa menggilirkan alir kata
rasa getir kengiluan yang lama.
Kapalo Koto, April 2005.
m, 1965-2004
seekor sembrani meringkik panjang dan seorang penunggang mengirap terbang
ke negeri atas angin, mengacungkan kerdip terang sebelum redup hilang
lalu hilang, tak ubahnya nyala nyali di rembang petang yang meremang
di negeri bawah angin, tinggal kinasih, orang-orang tersayang
sesosok semampai rubuh, matanya berbalut hitam, jubah, tubuh, robek, rusak
dacinnya doyong penyok, pedang patah, bibir biru memar darah
bersama lindap mengendap gelap, kian genap lengkap, ditabuh tambur, dihimbau sangkakala
menjelang malam. Dan hantu, zaman dahulu, melolong pilu, disuksesi kala senja
dan acapkali seseorang, menyaksikan peristiwa datang dan hilang, lalai menangkup
bila sesiapa, sesuara, dapat disergap malam yang seketika merangkup
seperti cahaya kunang-kunang yang melintas-lintas sekilas, sinar sirna
seperti tubuh rama-rama dari kenangan lama yang tersakiti, kerak luka
aku sesamar wajah di relung diri, kuncup lilin dalam tiupan waktu
anak-anak domba pada padang hati, bebisik yang tak hendak membisu
perang kembang akan terjadi, sementara malam tak bisa mati
cedera, sebagaimana aku dicederai, terlepas dari intaian waktu
yang bersijingkat dalam malam legam, bayang-bayang yang bergentayang
lilin leleh lalu lampus, repih hosti, anyir anggur, membunyikan sunyi litani
rintih-rintih rimis, rintik-rintik tangis akan reda di akhir sajak ini
tapi Prometheus, sang pencuri api itu, telah memberi seunggun kehangatan hati.
Kapalo Koto, 7 Maret 2k5.
“rasanya…”
di petak terminal kota lama, seperti pernah, beringin
tua menguning, rontok daun setelah angin. Ia seperti riwayat
yang lewat lalu lenyap. Di bawahnya, kita
berbincang tentang musim, pertukaran iklim
gerisik pancaroba
dan rinai tertabur, memanjang lebar, luas. Bau bis, tapak ban
pupus kikis sehabis simpang siur gerimis. Sisa kesan
yang dipesan sebelum riuh dan mesin pergi
menandur beton sehabis pohon
membangun pohon seakan beton
kembang rumput rumpang, pematang pondasi,
menjulur sulur-sulur besi, awan terjulang. Seseorang
mengais yang (akan) pernah, seseorang menulis yang (sudah) cercah
–permukaan gunung es menetes, air-air kaku, pulau-pulau
beku, aliran-aliran membatu, samsu abu-abu–
ruang lapang bertumbuh plasa, plang-plang, aku seperti ingat
terminal terlalu sering mengucap, ‘selamat’, pada saat
singgah dan pergi. Sengak pagi, seseguk kemarin hari. Di situ, seperti pernah, kujemput
selayang surat ibu, denyar harap yang menjalar, mengatasi panas aspal
dulu, rasanya…
ah, purnama, kau tiba, tiba-tiba bagai bisik,
“kenanglah aku….”
Kapalo Koto, 26 Juni 2k5.
Dekat Hutan Hujan Bersebadan
ke dalam biru yang dalam, di jauhan
bukit diarsir halimun menursir
di kedalaman, pedalamanmu nan rawan,
kubayangkan badan perawan
peluh cair gigir tebing, dinding-dinding hutan, basah
membasuh telanjangmu yang tak terperi
pada parak pagi
lembab gemeriap, meruap menyertai sesusun uap
jemarum cemara, pinus-pinus, cadas tandus (kubayangkan, kaktus haus)
rabalah…ganggang, alga lembut
lunak lumut, paku-paku jura. Sirahmu, Kinasih, yang jelita dan semua
dibelai gerai gerimis
kabut perlahan, cuma perlahan
seolah tertahan
turun merendah, ke bawah, jauh
jauh ke arah lembab lembah
sederet lekuk bukit, gemesir sawah, bunting padi, bagai tungkai
tangkai-tangkai bergejuntai, sayap-sayap hinggap
—akan berpijar hari menggaduh hati—dekat kali, pada tepi
pengolah batuan itu, seolah membatu sebagai buruh pemecah batu, nasib yang batu
***
dengarlah, gemuruh fountain—tubir tebing sungai yang terjatuh
gedebur pun sampai
di hatimu, di hasratmu jua. Harapan pun
didera, dihela, desah serasah pun hingga
ingin yang usai, surga yang sepatah sesah, lelirih
seperti lengas, sengal…dan sintalmu yang mengigal, ou
binal yang banal
lekaskan, lumaskan, lumatkan, hujanku….
Desir air,
putih buih,
jeram busa, riam liar,
kata.
Juga kata, kata-kata berpatahan, berlelehan, bergagapan mengusap liku
tubuhmu, menyirna dalam ginjang dan lenguh
tak berhingga, memanjang, tak lekang
mengekalkan jejak fonetis yang purba
bagai terbelah, celah kerang rekah, lalu terpecah erang, ah!
belantara tanpa nama dan tanda itu mengejan, di babak pertama.
***
kucari tubuh yang lain dari tubuhmu, rimba
yang meminta: nafsu barangkali gerumit miang,
berjangkitan dari dasar kedung, berkumatan di ujung ngalau, tak diketahui;
relung-relung buta, liana-liana naluri bertemu stalagmitmu yang rumit, bongkah bukit
dinding bergeming dengan dingin serupa fosil, “telurmu,
kutetaskan mirip kubangan guano” amis asam, pendar fosfor,
hawa hangat, lezat leleh—kandaskan, tandaskan! Hujan tumpas, sesaat.
Kupetakan kemolekanmu, seelok Dunia Baru:
seharum nilam, sehitam arang batu rambutmu
sesangrai aroma kopi coklat kornea dan jangatmu
selengkung Teluk Kabung yang jauh di garis alismu
selembut karang putih, lapang hatimu
o, gairah rempah, o, amis merah
ai, Hindia, lautan sejarah menawarkan garam keperihan.
***
kita simak, jauh hari—sejauh hati terkenang
di sehimpun samar senja yang menjauh ke pesisir
setelah tungku-tungku dinyalakan, dan pelita menjangkau gulita
sehamparan ladang laut, siluet-siluet perahu redup, elang luka, pulau-pulau angslup
menyongsong hujan saat Juni. Yang tampak
akan raib ke dalam gaib, surya ke balik magrib, selepas menghirup hidup
memento, sahutmu, petang yang hilang
menyisakan kenangan,
“…rel-rel leram, diam-diam, dengus loko legam, dingin, di Ombilin
ada liang yang ditinggalkan, ada kota dan catatan yang tenggelam,
ingatan kita tengah terkuburkan tanpa nama juga penanda,
mengabur dan menyilam….”
“Hmm…sejak kapan, kemerdekaan menjelma jadi penjara?”
matamu, Kinasih, seperti bentara awan
dawai-dawai gerimis segera turun di sana, dan seseorang
akan memungutnya sebagai puisi
memetiknya dalam senandung—kidung sunyi, dalam pembisuan ini
abad yang lewat, abad yang khianat; adab yang biadab, adab yang bebal
kita penyap sebelum segala yang terkenang melenyap
***
arah ufuk
ada nuansa, muram sepia, nyanyi pungguk
seperti firasat buruk
dalam pada itu, apapun itu, kita, siapapun kita,
bagaimanapun akan bersiul
bernaung diri, berdiang di unggunan sajak—semacam seserpih setapak
seraya memejam, mengingat, serasa gugusan kata-hatimu menyala-nyala.
(Apa artinya? Mengapa? Tapi, bagaimana mungkin?)
kata-kata paling pahit,
dan hidup yang terkadang.
Haruskah mesti diakhiri menyerupai arti, menyamai makna, tak tahu-lah.
Payakumbuh, 28 Mei 2k5.
Gestural
Apa arti mengenai: desahmu—engahku,
lirihku—rintihmu, erangku—jeritmu yang buluh perindu itu?
Tak bertengger, bukan? Tapi, mengapa kau dan aku
berkali-kali, tak habis-habisnya ditagihnya selalu?
Padang, 2k5.
Lalu,
“Siapa? Kau! Oh, aku lupa, terlalu…keterlaluan.”
…lalu, setelah itu kulucuti dirimu dari diriku, sejurus, tak lupa kuhidupkan frekuensi radio dalam kamar, lalu saluran tv di ruang somah yang merelai sinyal silih berganti, sambil lalu, membunuh senggang ruang, melalukan gusar hari melalui mimpi, lengang menunggu tamu, sepi jua yang datang, selalu menemu tamu, meski tak diundang, entah mengapa, aku lebih mengenal sepenuhnya sang selebritas karbitan tinimbang tetangga sebelah rumahku, singgah lalu…selalu berlalu, selalu begitu, seusai ini lalu itu, “kita kehilangan tema, Cintaku,” arus bawah amnesia, trauma, sudah jadi bercak negatif film, ruas lalu lintas, lalu lalang berkas terang dan kelimun bayang-bayang, rupa warna aksara bagai blur-blur kabur, mencolok bias cahaya di sepanjang pandang, kata-kata, terlihat-terdengar-tersaksikan-terucapkan, “puisi, tak bisa dipesan hari ini,” seperti melampaui yang mungkin tiada menyingsing, sihir temaram meneluh kelekatu, kelelawar, kelelesa, kelembak dan kelemayar dalam aroma remang-remang…lantas, tak ada jalan pintas di relung polis ini, cerita-cerita air asin, berita-berita nasi basi, di liang manapun indria terus ditempias sensasi, gelembung-gelembung slogan, grafis nama-nama, dilema lema-lema, gelombang peristiwa, dipukau nyinyir repetisi, jasad-jasad abjad yang gegas berlari—toh, tak menebus seseorang yang tiba-tiba merasa kehilangan atas sesuatu yang tak pernah ia miliki, untaian memorabilia, saat-saat itu, melankolia pendar pudar, “duh, selamatkan aku, selamatkan aku, Cintaku.”…sesudah itu, lalu apa lagi? Sehabis ini dan itu, dalam fana yang kian maya, sesiapa akan mengigau isomnia, menggumam paranoia, bersipapas dengan monolit satelit purbani (yang kausebut “bulan”) yang lamban, tak berisik dan diabaikan, sejenak tersirap, tergeragap, dengan kalimat lain—lalu batu dilalu waktu, masa lalu dilalu hantu, “eh, kau tahu siapa aku? Aku lupa, sungguh…”: ilusi, fantasi, halusinasi, lalu…angin lalu, lalu….
Kapalo Koto, 20 Juli 2k5.
Bulan Ahmar
Datang bulan,
“aku memberi makna,
maka aku ada.” Racau siapa.
Temaram. Di sini geometri kota, arsitektur tembok gua yang cemas, lintas ruas waktu yang menembus, lalu lalang hilang, kontras huruf pada lelampu, seribu kupu hitam, daging, api dan besi
serta kubus kita ini membuat absen
(siapa kita itu sebenarnya?
Adakah cinta ini menautnya?)
bulan, nun, bagai pasien
somnabulis yang memelas
di bangsal 14.
Halo
Sirkel cahaya di paras peri
nirmala & perbani
sebelum kita menyebut muasal kata, ihwal dosa
debu bintang dari kahyangan
pada wajah yang sama
pendar bias, uap beku: seperti puisi
“barangkali cinta, akan memerdekakan kita
dari dunia.”
Bulan persih pelan
mengusir konstelasi
dari rasi, astral yang menyisih
ke pedalaman di kedalaman hati
cahaya mengendap
bayang-bayang lalu lindap
aura seperti tabir
gaun terawang
yang ingin kau tanggalkan
dari sisa mimpi semalam dan naluri yang terbit
penunggang liar, memanjat angkasa
di mana surga temasa
disembunyikan
–hangat, legit yang leleh—
bidadari mengirap
usai mengelap, madu
ke balik gelap
dinihari
menyerupai dongeng itu.
Impian yang hilang dari malammu
“luka yang dilupakan, agaknya
dosa yang dikekalkan.”
Terang Juni
di malam sedap malam
kau dengar deru jauh, padang pasang
mengais kersik, bunga karang
di awang
tergolek, buah bulan, terkulai
pada tilam, seprei masai
dilena kumulus
kapas-kapas angsa—gemawan
dan lunar, memar: kabangan
tak lagi perawan
pasi, di pucat pagi
telat
“kata-hati akan disiangi, dipesiang
tentakel—sungut-sungut matahari—di sesiang ini.”
Kapalo Koto, Juni 2k5.
Cerita Bagi Ni Putu Amalia
Seorang kenang selembar mei yang jauh
yang tak tersentuh,
tak lagi kembali sebagai semi
kecuali bangkai, kuntum ceri yang jatuh
terbengkalai
Cerah ceria beliamu, lia, seperti pagi
sepersih langit bulan itu, saat lampion-lampion toko
mengepulkan hitam hio
wajah yang silam di dalam kusam foto
dengan bekas labia luka dan cahaya linang
lilin yang lintuh
Hanya kini, seorang sentuh kau punya tubuh, amoi
dari latar yang tenang, jambangan ramai kembang
Setelah kerumun api, serabut
yang menjalar rambat
dari akar bahang, memancar segilap arang
ada kuala payau, juga murung tanjung. Ada prahu
pergi melarung melintas laguna
bersama nasib, kebisuan yang tak tergusah
ada ombak dirombak tetaring beting
ada lumut hangus pada genting
dilekang tahun sejak laksamana Tiongkok
menguguh sunyi surau dalam pongang
ketika sisa malam tak lagi penuh menyusul subuh
ketika grimis giris, bintik-bintik berbasuh
bening, melambai hening
Gapura parahyangan, langit itu, yang tak mengetahui pigmen
dengan tanda luka seekor naga
bagai loteng tiris dengan surah-surah yang curah
runcing, ke arah
di mana Tuhan mesti diselamatkan
dari warna yang lain
kayaknya, tema kesementaraan telah jadi klise
yang abadi di antara variasi dan para frase
apa makna sebuah arti, lia?
Hanya kini, seorang sentuh kau punya tubuh
kesekian kali
cuaca berangin, iklim bergeser, bintang berpindah
sedih
tubuh membentang kota dengan hari bergegas lari
kota membentuk kita dengan mata berapi
kita menyeka sirah dengan hati berair
Hanya kini seperti ratap, dalam diam
seorang kenang selembar mei yang jauh
seperti mematri utas yang putus
yang lepas lalu kandas, layang-layang kertas.
Hanya kini seperti ratap.
Kapalo Koto, 15 Agustus 2k5.




3 comments
Comments feed for this article
November 29, 2008 pada 4:55 pm
adzan koebeoe
kama lah…. urangnyo ko…
Desember 24, 2008 pada 5:56 pm
puriantari
( @ @ ) bagus yaaakkk hikkkssss
April 1, 2009 pada 9:34 am
sugeng riyadi, SE
Kabarnya Mas Hari bisa dilihat koq di http://www.rimbobujang.wordpress.com