Mata yang Kemarau

Cerpen Pinto Anugrah

Mata yang Kemarau

Mata yang Kemarau (Photo: Faiz M)

Runcing kaki hujan jatuh tepat menimpa ubun-ubun kepalanya. Cepat-cepat ia berlari, berlindung ke bawah atap rumah yang menjorok keluar. Ditunggunya hujan reda, namun sepertinya akan lama. Di langit awan hitam masih tebal, belum cukup dengan jatuhnya hujan yang baru sesaat. Matanya menatap hujan yang jatuh dari atap menimpa tanah, hingga kaki-kaki hujan itu membentuk semacam garis lurus seakan memberi batas. Batas hujan. Masih cukup lama ia akan berdiri di sana, merapat ke dinding rumah.

Dari dalam rumah, ia menatap nanar keluar. Tak cukup cahaya yang masuk ke rumah itu lewat jendela. Awan tebal membuat kelam. Sehingga samar-samar tubuhnya seperti mematung, tinggal bayang-bayang kehitaman. Matanya lurus ke jendela. Menatap punggung yang tegak di pinggir jendela. Dapat ia lihat, tubuh pemilik punggung itu tampaknya sudah mulai menggigil. Ingin ia mempersilakan tamu yang terkurung hujan itu untuk naik ke rumahnya. Namun ia masih ingin memandang punggung itu berlama-lama.

Kedua tangannya berusaha memagut tubuhnya sendiri. Menyesal juga ia tak membawa baju dingin. Ujung jarinya dengan kuku-kuku yang terawat itu mulai kelihatan pucat. Dilihatnya ke arah ujung samping kirinya, sebenarnya ada beranda yang agak lapang dengan kursi kayu. Cukup nyaman sebenarnya untuk berteduh daripada tempat ini. Tapi entah kenapa ia merasa enggan untuk berteduh di sana. Ia hanya menatap, enggan untuk melangkah.

Ia memperbaiki duduknya di kursi. Sekarang punggungnya lebih tegak. Ia masih menatap punggung itu. Bentuk punggung itu. Lekuknya. Yang agak sedikit bungkuk. Bungkuk sabut, begitulah orang-orang menyebutnya. Dirasakannya punggungnya sendiri, ia berusaha menegap-negapkannya, sejajar dengan punggung kursi. Ia tak merasa betah, akhirnya dipasrahkannya punggung itu ke sebentuk semula.

Sungguh ia pasrahkan saja kakinya dijilat kaki-kaki hujan. Kecipak air membasahi sampai ke betisnya. Lidah-lidah tanah pun meloncat-loncat ke tulang kering kakinya. Ia tak merasa gusar. Malah semakin larut untuk bermain-main dengan kaki-kaki hujan. Dijulurkannya kakinya dengan betis yang pucat itu. Ia semakin tersenyum, hingga tak sadar bahwa sedari tadi kedua belah tangannya telah menyingsingkan rok kembangnya ke atas. Lututnya yang runcing tersingkap. Tapi ia seperti tak peduli. Ia terus bermain.

Baru terpikirkan baginya, sebaiknya ia menghidangkan segelas teh hangat, untuk mengusir dingin yang mulai mengurung tubuhnya. Namun ia baru tersadar, ia belum mengambil sedikit pun air untuk air minum di mata air sudut kampung sana. Tetangganya yang biasanya menolong menyinggahi air untuk dirinya belumlah datang sedari pagi. Ia memutar kursi rodanya menuju dapur, melihat termos penyimpan air panasnya, mudah-mudahan masih cukup untuk segelas teh. Sekarang punggungnya membelakangi jendela.

Mereka saling membelakang punggung.

* * *

Gemuruh memecah diam mereka masing-masing. Tapi hujan tak kunjung turun. Mereka ingin saling menoleh, menatap kedalaman mata masing-masing. Rasa enggan sepertinya masih ada di diri mereka masing-masing. Tidak. Mungkin mereka tidak saling menoleh, tapi di antara diri mereka masing-masing sebenarnya sedang berbincang.

“Ingat juga kau dengan rumah?”

“Hanya jalannya saja yang cukup sulit kuingat.”

“Untung kau tidak ketemu hujan di tengah jalan.”

“Hujan mengerti aku akan pulang.”

“Oh, sepertinya hujan tidak jadi turun. Aku harus ke ladang.” Ia pun beranjak dari balik jendela itu.

“Kenapa, kenapa harus selalu seperti ini, Bu?”

Langsung ia hentikan langkahnya. Dan kali ini ia langsung menoleh kepadanya. Mata tuanya yang keriput langsung terbuka, nyalang. “Sudah kukatakan, jangan panggil aku seperti itu! Panggil aku ayah, kau tahu! Ayah!”

Ia menatap mata itu, mata yang walaupun sudah tua tapi masih menyala-nyala. Dan nyala mata itu sanggup membakar dirinya. “Aku tahu Ibu berusaha menggantikan posisi Ayah dalam hidupku. Tapi aku juga ingin Ibu tetap ada. Aku ingin Ibu, Bu.”

“Ibu cukup yang melahirkanmu saja!”

“Ibu sakit!”

“Ayah!” Ia menggantung sebelah tangannya di udara, tepat di antara mereka.

Sedangkan ia, langsung menutup pipinya. “Ayah.”

Kosong, sekosong pandangannya.

Oh, abu di atas tungku.

Waktu itu kemarau. Sawah kering tak berair. Belumlah subuh, tapi ia sudah terbangun, melangkah keluar rumah untuk melihat air sawah. Lalai sedikit saja maka sawahnya akan kering. Angin subuh begitu kencang, dibungkusnya badannya dengan sarung.

“Milan, tunggu.”

Ia menoleh. Seseorang telah berdiri di sudut halaman rumahnya.

“Oh, kau. Ada apa? Anakmu sedang tidur, tidak bisa diganggu.”

“Tidak, aku tidak hendak menemuinya.”

“”Lalu? Aku tidak ada urusan denganmu lagi. Sudah enam bulan kau tidak menafkahiku, kau sibuk dengan istri mudamu. Aku pergi melihat air sawah dulu.”

“Milan, tunggu! Aku perlu denganmu.”

“Apalagi? Aku sudah rela kau beristri muda dan aku sudah rela tidak kau nafkahi lagi tanpa minta cerai. Aku relakan kau jika ada angin terbang ke mana saja kau suka. Sekarang apalagi yang akan kau minta? Anakmu, oh, aku tidak percaya kau akan mengasuhnya.”

“Tidak. Anak kita biar kau saja yang membesarkannya sampai besar.”

“Lalu apa? Apalagi yang akan kau minta? Kau ingin aku mengemis kepada istri mudamu supaya kau diizinkan kawin lagi?”

“Tidak. Aku hanya mau menanyakan keadaan sawah kita, Milan?”

“Oh, sawah? Doakan saja panen kali ini menghasilkan.”

“Milan, kau tahu bukan, anakku dari si Minah tiga orang dan mulai tumbuh besar. Bahkan yang terbesar hampir sebaya dengan anakmu. Aku semakin susah membesarkannya, kau tahu bukan, usahaku membuka kedai kopi pun tidak maju-maju. Sedangkan kebutuhan mereka semakin membengkak, apalagi kebutuhan si Minah, bedaknya semakin tebal saja.”

“Lalu apa urusanku. Urusanku denganmu sekarang cukup hanya masalah anak kita satu-satunya.”

“Itulah, Milan. Karena itu, rasanya tidak sanggup aku membesarkan mereka kalau hanya mengandalkan usaha kedai kopi saja. Aku hanya minta pengertianmu, Milan. Kalau boleh, aku kembali menggarap sawah yang sepetak itu.”

“Apa? Sawah yang sepetak itu kau minta lagi? Nali, sawah itu telah kau hibahkan kepadaku sebagai syarat memperbolehkan kau kawin lagi. Sekarang kau minta lagi?”

“Hanya itu caraku untuk menutupi kebutuhanku dengan si Minah yang semakin membengkak, Milan.”

“Nali, kau tahu, hanya sawah itu yang akan mengasih makan anak kita, tidak ada yang lain. Jika kau ambil dengan apa aku akan memberi makan anakmu.”

“Milan, tolonglah. Anak kita masih punya mamak, tidak mungkin mamaknya akan menelantarkannya.”

“Walau bapaknya sendiri menelantarkannya? Kasihan kau, Nak. Dapat bapak si lapik buruk.”

Oh, lapik buruk.

Hujan turun tiba-tiba. Kemarau putus sesaat. Ia mengusap pipi itu, pipi yang telah kendur itu. Ia mengusap penuh kehangatan. Namun pipi itu serasa dingin. Lebih dingin dari musim penghujan. Sedangkan mata itu, mata yang memandang lurus ke depan. Mata itu kering, mata yang lebih kering dari kemarau.

“Ibu, sadarlah! Ini aku. Aku pulang, Bu. Bicaralah, Bu. Aku tahu, saat ini kau adalah ibu, bukan ayah. Bicaralah, Bu. Ini aku pulang.”

* * *

Hujan tak juga berhenti dan ia semakin tak tahan menahan dingin dengan menyandar ke dinding itu. Ia pun beranjak dari tempat tegaknya itu, beranjak menuju beranda yang agak lapang itu. Berusaha ia duduk di bangku itu dengan menenang-nenangkan hati. Angin datang menampar tubuhnya, ia semakin memagut tubuhnya sendiri.

Ia memutar kursi rodanya keluar dari kamar. Kursi roda itu menuju ruang tamu. Dari ruang tamu itu, jelas dari balik jendela, pemilik punggung itu telah duduk dengan tenang di bangku beranda itu. Hujan membuat tangannya semakin kaku, sehingga kursi roda itu berhenti tepat di belakang jendela itu. Angin datang menampar tubuhnya, ia semakin memagut tubuhnya sendiri.

“Masuklah, Nak! Masuklah! Ibu sudah lama menunggumu.”

Padang – Sungaitarok, 0808 – 09