Musim Tanam
Di mana kautanam dirimu, biar kupetik saat musim panen
di antara benih-benih. Ranggas juga di hatiku
seumpama kita yang jatuh pada musim tanam,
desir angin menyimak di pematang. Adakah kau
yang duduk di dangau sana.
Di kelok-kelok pematang. Kaurambah rerumput
semak umpatmu. Pada kubangan. Keciprak lenyah lenguhmu,
kau mengumpat ujar. Padahal kaudatangi juga
dangauku,
adakah kau bertanam di sana.
Kandangpadati, 0708 – 09
Pandam Petang
Di dalam rumah kututup matimu. Hujan di luar,
sepongah cerita tak bisa kuantar. Tanah masih basah
untuk kugali
dan kaubuka jendela di hatimu yang petang. Kapan kita berkabar
lagi, mungkin tentang jalan-jalan kecil di kampung.
Bukan jalan menuju pandammu. Di sana hanya ujung lebuh
yang menuju yang entah.
Kandangpadati, 0708 – 09
Rindu Semak
Sebuah rindu dalam semak. Tumbuh berhari-hari. Padanya
hendak kautanam, menuai hari.
Getar tanah, di ujung airmatamu. Sedang ibu tak kaudengar
tangisnya. Lama sudah tak kautakzim kabar petang.
Kandangpadati, 0708 – 09
Akhir Pekan
Maukah kau ke kota untuk tamasya akhir
pekan. Sebelum penjemputan mungkin. Ujung-ujung kampung
mulai lengang padanya.
Ada lagi yang berangkat, keluhmu. Di sini rindu menyemak
membaca tahun yang basah.
Sedang di ranjangku, tak lagi satupun yang singgah. Kusen pintu kamar
yang habis dimakan rayap, kutinggal. Mereka berduyun-duyun, mendayung
pelabuhan yang selalu pecah pada senja.
Jauh di kampung
aku berakhir pekan sendiri.
Kandangpadati, 0709
Petak Umpat
Tak seperti di jalan setapak yang kaucari
ujungnya. Di ujung, petang
pecah di balik belukar. Adakah kausembunyi
di sana, memetak-umpet umpatmu.
Aku sembunyi dulu dalam baju.
Kau tak kunjung keluar dari miang semak.
Kandangpadati, 0709 – 11
Angin Lanun
malam mendekap usang di kelok-kelok sungai. Tak kau
layari lagi tongkang. Merapuk rabuk di bibir teluk. Padahal kutunggu
sepatah pantun di selatmu. Tak ingin kau jadikan aku puan
dengan selendang kuning
menari serampang di kepala. Petang di buih yang tenang. Aku kembali
ke masalalumu yang lapuk. Pernah kita bersua di bandar yang jalang.
Orang-orang saling menjelang. Persuaan yang tak pernah tercatat hikayat.
Pada pusaran ribut angin lanun. Kau panggil aku:
Lanun. Yang tak pernah mencatat hikayat laut. Di selatmu
yang menua. Kulayari dengan dendang yang kusut. Memanggil
iba pada anak-anak dagang. Datanglah membaca hikayat
yang dibawa kapal merapat di bandar. Membungkus kilau
emas di pasir pesisirmu.
Sepanjang selat sepanjang tarikhnya, hikayat
apungkan kapal-kapal. Padahal di balik buih yang meranggak
muncung meriam menganga. Muntahkan bedil,
beribu-ribu banyaknya berwaktu-waktu lamanya. Tenggelamlah
ke dasar hikayat. Lanun yang tak menggarisi peta-peta.
Tersesat di bibir selat.
Kandangpadati, 0707 – 10
Angin Samun
Rindang rimba menggelayut pada pucat tangis
lengang jalan mereka. Seperti subuh yang murung
di antara nyanyian jangkrik, tak satu pun sitatap
menyapa
di antara derai-derai rimbun daun. Sedang di belakang
menyapa kilau tebasan, parang yang haus.
Aku dengar derit roda pedati, belah sunyi rimba,
tempat samun terkantuk-kantuk, menggantung di dahan
peluk bini menajam mata parang.
Dan nujum yang dikirim jauh
dari tawa kanak yang berkejaran di jalan tanah,
jalan kampung. Menyisa, samun yang mengendap
di balik batang-batang kayu. Samun
yang tak lagi kabar di hantar angin, berbisik
pada daun-daun. Dan di sini hanya pucat darah
menetes seperti embun di pucuk daun. Jatuh
pada ubun-ubunnya, mencium tanah.
Pada rengek anaknya di pangkuan
bini yang menanti kabar angin.
Samun.
Kandangpadati, 071205
Bunga Kopi
- yts.
Ia yang kemudian tumbuh serupa harum bunga kopi. Adakah
boleh aku menghirupnya tiap pagi. Yang kemudian membaca keluhmu
jadi berita pagi yang kurindui. Angin lembah yang berloncatan
diikuti kabut. Pagut aku dalam hirup hatimu. Ia
yang memecah hijau-hijau daun. Tak kaulihat seorang tua
memanggul peluh menuruni terjal bukit demi sekelopak harum. Dan
tak kaubuat hatiku serupa yang petang. Di sini aku menghiba
jejak pada tanah. Aku ingin kau yang datang.
Hidangkan kopi pada yang datang. Toreh namamu di tudung mereka
dan kita kemudian pergi memagut hari.
Kandangpadati, 080110
Sajak Parole (05)
Siapa yang kaupikir akan datang. Takkan ada
sebelum panen usai. Sedang kabut
masih selimuti hati ibu, yang menumbuk lesung
di halaman, kita, hanya jadi tempat untuk melepas
orang-orang yang hendak lepas, yang hendak
menampak punggung, takkan ke mana-mana.
Kandangpadati, 0803
Sajak Parole (06)
di tangga yang masih menghitung silsilah,
jika kau tegak nyalalah sekalian mata. Tak kuasa
kautolak segala pinang. Tak takut kau
tak berbuah lagi, maka hendaklah ada yang menjemput.
Maka tak hendak ada yang menjemput.
Maka tak hendak kau hendak kujemput.
Kandangpadati, 0803
Sajak Parole (11)
- tampuk hujan
Hujan yang lepas pada tampuknya. Ada yang patah di sepengujung
penggalah. Ia yang menari, terus menari. Tak ada yang lepas
di kemarau, walau terus menganak pada sungai. Ranting-ranting hanyut
tersangkut, tak ada yang memungut. Hujan patah pada musimnya.
Dan siapa yang turun dari tampuk hujan. Gemuruh mengiring.
Iring ia ke muara. Berlabuh di bandar-bandar. Kabar pun sampai
pada tarikhnya. Orang-orang mencatat. Menyimpannya di mulut
lontar. Angin terus mendesau membawa waktu. Ia tak perlu risau.
Teruslah menari dalam diri. Anak dagang yang datang selepas musim.
Hanya persuaan, setelah muara kering dan kapal
yang membangkai. Dalam peti-peti yang terhempas. Ia menunggu
angin gunung yang kembali menghimbau.
Kandangpadati, 0803 – 04
Sajak Parole (17)
- ladang jantung
Di tanahmu, aku hanya sejumput akar
tak kunjung jadi batang. Di mana kau bertanam
di jantungku, biar degup. Memacu di sini
jadi rindu. Mungkin
di suatu waktu, aku akan cerita
dalam sayup-sayup kantuk; aku hanya peladang
yang menanam hari di awal pagimu dan akan kutuai kau
di ujung petang—mungkin akan kauanggap sebagai
pinangan. Di jantungmu
Payokumbuah, 0804 – 05
Sajak Parole (23)
- takut pusau
Kenapa aku harus melarikan diri, dalam
takutmu. Padahal aku tak pernah janji untuk jadi seorang
padri, yang sangat takut
akan matimu. Yang suatu hari kauteriak,
“di mana kauletakkan matiku!”
Dan ibu yang langsung meraung. Jika tahu
sebenarnya. Aku hanya rindu
tapi aku takut akan cinta, ibu
yang membawa kelindan hari. Jangan-jangan
suatu hari aku pun bisa bunuh diri.
Atau ini hanya perasaan cemas. Jika kau suatu waktu,
yang lampau, maka jelmakan aku
dalam selimut tangismu. Namun tetaplah, saat ini
aku masih berputar dalam pusau angin.
Kandangpadati, 0805
Sajak Parole (25)
- punggung telanjang
Setetes hujan jatuh di punggung yang tengah
telanjang. Gigil mendesir. Seperti cumbuannya
membaca hariku yang cemburu.
Kepalang basah, kemudian bermandi hujan.
Tak ada yang dicemaskan, kecuali
sakit. Hati membengkak. Memamah
badan. Tak cemas tak bertali. Badan
tinggal diri. Seorang kau.
Kandangpadati, 0805 – 06
Yang Terserak
I/
jika digantung aku tinggi
jika dibuang aku jauh
oho, siapa yang menguping, di palang pintu
sembunyi ia di depanmu. Jangkau dengan tanganmu
biar sampai atasnya
sepejangkauanmu, tak lagi biarkan
ia lari. Seperti yang kautangguk pada yang terserak
yang mana kaubincangkan, hanya bisik-bisik. Jika kata
berulang, maka kauulangi aku sebagai yang hendak
mati, agar aku terus ada.
II/
duduk seorang hendaklah bersempit-sempit
duduk semua hendaklah berlapang-lapang
dan siapa yang hendak kautenggang, rasanya
kita tak pernah satu ruang. Percakapan yang sudah
jadi anyir liur, seperti bibirmu. Yang juga kubuat
kisahnya, dalam serat yang menyaring.
Jika kautulis aku sebagai yang hadir, alangkah
tamaknya jika kuucap kau datang pada yang terlambat.
Kami, di sini, telah berucap berliur-liur
tak hendak kujilat lagi apa yang telah terserak.
Bendang, 0802 – 03
Hujan Panas
Tak ada mendung di bibir langit, lalu apa
yang akan menjelangmu. Seperti ibu yang menyulam,
menanti di sudut beranda. Ia lihat rantau di ujung
matanya. Seperti suara yang selalu berbisik: bau tanah
yang tersiram naik mencium tengkuk, maka
akan putuslah sekalian.
Bendang, 080120
Ujung Laut, Malam Letih
- yts.
kau ujung laut dan aku malam letih
Pada lautmu, kau tak lagi mandang
batasku. Di cerita tongkang yang muram.
Aku tak lagi lanun di antara kekanak
yang mendayung sampan
di matamu. Sudut mata yang memandangku,
aku ingin cerita lain dalam lindap
dan lagu dari nyanyian petang.
Langit di ujung laut yang murung
bagi para penangkap ikan,
kautunjuk bola api di langit barat.
Seperti hati para kekasihmu yang kauserakkan
di antara tudung lampu jalan.
Aku menghitung jalan, membuatku surut
pada perhitungan tarikh bintang menuju
rumahmu. Pada kota yang sama.
Pada ujung laut, letih malam. Kita di sini
hanya sebatas angin ribut
mencari persinggahan di antara temali leluhur.
Taplau, 071123
Tanggal Genap
Tanggal yang digenapkan, kau berpikir tentang tanah yang kering,
laju hujan bak kekasih yang kaurindui. Sedang nujum tak lagi kasih
yang sampai. Hingga lagu petang lerai seperti
rambutmu yang pecah di belukar. Kita akan bertanam
jika kaki hujan datang menyapa, bisikmu mendesah di telinga
buatku basah. Mandilah sesubuhnya agar kecup sampai. “Semalam
aku pergi ke ladang, mengusir hama pemakan buah.”
Aku begitu letih. Serupa anai-anai kauganggu tidurku. Ia menggeliat
turun mengikuti angin lembah. Menutup lapar di ladang-
ladang orang. Dengusnya yang dihantar angin, berputar kisau
di daun telinga. Kautangkap cemasku
di tanggal yang terus kauhitung dengan peluhmu. Ia mencari sisa
harimu yang kausembunyikan di antara rumput liar.
Kau langsung menahan ludah, cangkul yang patah di bibir
pematang. Dalam hari yang belumlah petang, kaupulang dengan wajah
tertunduk. Tak hendak kaujelang lagi ladang
pada tanggal yang digenapkan.
Padang, 080105 – 11
Hari Kosong
Aku kehilangan sabtu setelah jumat
tertidur. Pesan yang tertinggal, ada dua
orang yang datang, yang satu menagih hutang
dan untung aku sedang menutup mata,
yang satu lagi pacarku yang baru hamil dua
bulan dan aku menyesal tidak bisa membuka mata.
Apakah aku akan bertemu minggu saat mata
masih sangat kantuk. Ibuku mau datang dari kampung menjenguk-
kutidur. Aku ingin menyambut ibu dengan mata yang cerah,
namun mendung telah menunggu,
sebentar lagi pasti hujan, waktu yang enak
untuk tidur.
Kandangpadati, 080210
Mata Laut
; Arafuru
Senja tak juga kau kekang. pada layar
daun pandan. Sesobek igau pada mimpi.
Janji akan muara.
Serta mimpi yang kuyakin
tak sia-sia
di puncak. Kabut memutih.
Seputih hati kekasih. Pantulkan binar
mutiara. Namun, kutemukan binal
Indowawerik.
Tak ada angin
mengayuh ke sore.
Sampan ini tiris. Mengiris
wajah Inkonkuburi, yang tirus rona merah.
Ini tentang mimpiku
pada peralihan musim.
Tentang pelayaranku. Layar pandan
tak juga menangkap angin.
Hanya tangis laut, tak lagi punya kuasa
asa gelombang.
Tak ada badai laut. Hanya bayangan
senja yang hangat di bulan maret. Di batas
langit batas laut, kulihat bayangan rambut
senja keemasan. Di Sorendiweri.
Di situ mimpi menyatu.
Lalu digantang. Senja sirah
menyirah, seberang Arafuru
kutatap mata harap
bening mutiara.
Oh, padahal janji telah tertancap. Di puncak,
tempat Woneri berdiam.
Serta leluhur, menyuruk di sini.
Di tanah ini ada mata-mata bisa. Namun,
kukayuh juga ke seberang.
Namaku; Seremanirai!
Berlayar, ke seberang, demi mimpi
untuk seorang permaisuri
yang tertidur lelap dalam kerang.
Kukayuh juga. Di mana matahari membenam.
Di tanah ini, ada mata-
mata laut. Dan tangis
seorang kekasih,
padahal ingin kuukir. Patung. Tertancap
di tengah kampung.
Tak kutemukan rambut
emasnya. Wewarna
yang tiba-tiba terserak. Kutemukan
hati karang
Indowawerik. Mengikis sepanjang pantai.
Di antara selip kerang.
Tenggelamlah,
kerang priton. Tempat tidurnya
terlelap. Biar lelap
di dasar. Di laut.
Lelap. Senyap. Lenyap.
Daun pandan, pembungkus tidurnya.
Sebelum benar-benar sampai
ke tengah kampung. kutidurkan ia
pada dayung sampan.
membelakang Sorendiweri.
Tiba-tiba senja sirah.
Menyirah. Seberang Arafuru.
Menggantang juga luka di sini.
Tak kutemukan mata teduh
di sore itu. Kubilang
rambutnya. Tak sehasta cerita
pendeta kampung.
Di sini larut. Malam
tak kau bentang. Ada hentakkan.
Tombak tak menghujam.
Menghujan. Tak menujum.
Pada helat. Hanya lelap.
Tak ada terang. Tak ada kerang.
hanya mata berang. Di karang
kerang priton.
Malam ini, tak ada kemukus
bintang di barat. Di atas
laut Arafuru.
Hanya nyanyian, tentang menggayut hanyut
padahal ini mimpiku. Menggantung.
Peralihan musim. Kukenang.
Ia tenang. Menantang
angin tak kembali.
Tak kutemukan. Kilau
rambut. Mutiara yang merajut.
Di pasir, ini tangis
Inkonkuburi. Hujan tak jadi turun
senja itu. Kujelang.
Bening pada mata laut.
Di balik karang
ada kerang
kekasih yang menunggu.
Ah, kutemukan
mata laut membungkus.
Malam ini, ada kemukus
bintang di barat, kekasih. di atas
binar bening. sesobek
layar pandan. Pandang.
Angin itu
balik ke Sorendiweri.
Yogyakarta-Padang, 0702-03
Tentang Penulis
Pinto Anugrah, dengan nama lengkap Pinto Anugrah Cht. Simarajo. Kelahiran Sungaitarok-Tanahdatar, Sumatra Barat, 09 Maret 1985. Mahasiswa skripsi di Sastra Indonesia Unand Padang. Giat menulis cerpen, puisi, naskah drama, dan esai. Karya-karyanya diumumkan di Padang Ekspres, Singgalang, Koran Tempo, Kompas, Riau Pos, Bali Pos, Pikiran Rakyat, Jurnal Selarong, dll. Serta di beberapa antologi bersama. Bergiat di Ranahteater dan Komunitas Daun. Sekarang tinggal di rumah kreatif “kandangpadati” Padang.




6 comments
Comments feed for this article
September 9, 2008 pada 5:06 am
W. Herlya Winna
Saya ketagihan membaca sajakmu.
September 14, 2008 pada 3:12 pm
kamonrakenrol
kak pinto…
saya belajar bikin rumah.
sekarang cuma punya batu bata…
bisa ajari saya mengaduk semen?
September 16, 2008 pada 5:55 am
kamonrakenrol
http://kamounrakenrol.wordpress.com
September 18, 2008 pada 4:23 pm
Rozi Kembara
“baru aku singgah pada tubuh sajakmu….
dan sebuah kota sejenak tercipta di batok kepala
mengundang renung yang lama ke mana?”
SALAM KENAL PENYAIR, dari seorang muda amatir
Oktober 31, 2008 pada 6:42 am
tidak tertulis
^_^
boleh tak link ini aku masukkan ke link fave di tulisanku?
this blog is awesome
salam kenal yak
the beauty never ceased
November 29, 2008 pada 5:33 pm
dony p herwanto
aku dah sering singgah kemari, dan sesekali pula aku mencuri kata yang kau pajang bagai etalase. barangkali, ini persinggahanku yang kesekian kalinya, dan untuk yang kesekian kalinya pula aku curi kata-kata-mu
tabik,
dony p. herwanto