ANAK LANUN
oh, hendak kukisahkan jua
hikayat yang telah lama berulang jua
kususun balik hikayat budak melayu
agar semuanya jelas dan tak layu
akulah yang mereka sebut tun bujang
mencari ayahnya yang bernama anggang
anak minangkabau yang kelak mereka panggil raja kecik
membangun siak yang di kelilingi encik-encik
tun bujang yang mereka buru dengan meriam
musuh raja-raja bugis segala yang geram
oh, tanah melayu
tempat berdiri raja-raja bugis
tempat berdagang anak minangkabau
tempat bersyair budak melayu
dst….
BAYANGAN MEREKA YANG MEMATUNG ITU MASIH JELAS TERLIHAT DI BALIK KEGELAPAN. KEMUDIAN SEBUAH SUARA MENGHAMPIRI.
SESUARA
Bangunlah! Bangunlah, anakku! Ini bukanlah kutukan lanun.
SALAH SATU DARI SEKIAN BANYAK BAYANGAN ITU BERGERAK. MENCARI-CARI SUMBER SUARA ITU.
SESOSOK
Kaukah itu yang memerankan ayahku Anggang dari Laut?
SESUARA
Inilah bentuk wujudku.
Kaukah itu, anakku? Kaukah Buyuang?
SESOSOK
Ya, aku, yang saat ini memerankan Tun Bujang.
Di mana kau?
SESUARA
Ada di hatimu.
SESOSOK
Hatiku jauh kutinggalkan di Minangkabau.
SESUARA
Telah kujemput dengan pusakamu Yamtuan Raja Kecik dan pedang Sapu Rajab, serta cap kuasa atas segala pesisiran laut.
SESOSOK
Di mana aku saat ini?
SESUARA
Ada dalam dirimu.
SESOSOK
Seperti kabut, kau buat segalanya kabur. Hikayat ini akan terus dibaca sampai masa mendatang.
Tidakkah aku sekarang berada di tempatmu? Di laut yang sedidih hingga teratak berair hitam, tempat buaya putih tengkuk.
SESUARA
Itupun lebih dikaburkan hikayat.
Ada apa mencariku?
SESOSOK
Hanya rindu seorang anak terhadap ayahnya.
SESUARA
Aku tidak bisa kau dustai. Yang kau rindui hanya ibumu Puti Jamilan.
SESOSOK
Rupanya laut benar-benar telah menjadikanmu seorang yang keramat.
…………….
(Pemenang III Naskah Drama Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) 2007)
(berminat membaca atau mempublikasikan atau mementaskan naskah lakon ini, hubungi king_of_chotic@yahoo.com)




2 comments
Comments feed for this article
September 7, 2008 pada 12:29 pm
sunlie
Tabik, Wa’ang! kapan ke jogja? segeralah susul romi…
kapan-kapanlah.bukan jogja tujuan rantauku.
September 21, 2008 pada 6:58 am
Eko Putra
singgah mengunyah-nguyah